Mer, Sby - Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup se Dunia sekaligus keprihatinan atas kerusakan lingkungan, Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan menggelar rangkaian kegiatan. Diantaranya pameran foto bertema Kerusakan Lingkungan di Royal Plaza, yang digelar mulai hari ini sampai 11 Juli mendatang. Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan Teguh Adi Sriyanto mengatakan ada 54 foto yang dipamerkan dalam acara tersebut.

" Kebanyakan dari 54 foto yang dipamerkan menceritakan tentang kerusakan lingkungan. Diantaranya cerita tentang musibah lumpur yang diakibatkan proyek PT Lapindo Brantas Incorporated, pembuangan limbah industri di kawasan Kali Tengah Kali Brantas, serta kerusakan
lingkungan akibat perusakan mangrove, kebakaran hutan dan alang-alang yang terjadi di Surabaya ", kata Teguh Adi Sriyanto pada reporter Alam Kusuma.

Saat ditanya mengapa mall dipilih sebagai tempat pameran foto, antara lain karena mall tempat berkunjungnya banyak orang dari berbagai macam latarbelakang ekonomi dan profesi. Bahkan dalam waktu dekat, pihaknya kata Teguh, akan mengadakan acara serupa berkeliling dari satu mall ke mall lainnya.

Teguh menambahkan selain menggelar pameran foto, pihaknya juga menggelar diskusi tentang lingkungan di tempat yang sama dengan melibatkan remaja sebagai peserta. Peserta berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto. Usia remaja dinilai paling tepat untuk mengenal dan memahami keberadaan lingkungan terhadap kehidupan kita. Kalau dari sekarang mereka kenal, maka ke depannya diharapkan mereka lebih peduli bila terjadi kerusakan lingkungan. Karena kalau lingkungan rusak, maka kehidupan kita pun akan rusak. Dan ditegaskan pula oleh Teguh, kerusakan lingkungan bukan semata-mata salah Pemerintah. Masyarakat pun ikut andil menyebabkan lingkungan hidup rusak dengan tidak turut menjaga dan merawat kelestariannya. ( Alam/Diana )

Mer, Sby - Teater Indonesia kini sedang berputar-putar dalam tempurung dunianya sendiri. Maka wajar saja kalau ditengarai teater Indonesia tengah mengalami stagnasi. Bandingkan saja dengan kelompok-kelompok teater di negara maju, sebut saja Perancis. Di Perancis, teater sudah menjadi industri tontonan. Sebenarnya minat masyarakat cukup tinggi menyaksikan pagelaran teater. Karenanya kini digelar Kompetisi Teater Indonesia, salah satu tujuannya untuk menumbuhkan kembali penggiat teater yang lama vakum. Seperti penuturan Pegiat Teater Dewan Kesenian Surabaya ( DKS ) Farid Syamlan.

" Terakhir, monolog dari Butet, sangat bagus. Dan November lalu ada teater yang juga sangat bagus dari Bengkel Teater Rendra, disutradarai istri Rendra, Ken Zuraida. Selain itu pagelaran teater dari Payung Hitam, Bandung, juga dipenuhi pengunjung. Saya mencermati stagnasi teater Indonesia lebih karena hanya mengeksploitasi kelompok-kelompok teater yang sudah mapan. Sehingga dari tahun ke tahun yang diundang hanya kelompok teater ternama. Akibatnya teater-teater yang sebenarnya punya potensi, tidak punya kesempatan untuk maju. Inilah saat yang tepat bagi mereka untuk mengikuti
Kompetisi Teater ", kata Farid Syamlan pada reporter Alam Kusuma.

Sementara saat ditanya bagaimana dengan kelompok teater di lingkungan kampus, apa sudah cukup pantas dieksploitasi, Farid Syamlan menambahkan perkembangan teater kampus saat ini sudah cukup bagus dan pantas untuk bersaing dengan teater kenamaan. Setidaknya saat ini, dalam 1 kampus kata Farid, ada 3 hingga 4 kelompok teater. Ini bisa jadi modal bagi mereka untuk berkembang jauh lebih bagus lagi. Karena sebenarnya potensi teater Indonesia termasuk didalamnya teater kampus sekalipun, sangat besar untuk ke depannya. Untuk itulah, perlu adanya upaya menjaga semangat berteater di
lingkungan kampus, agar teater Indonesia tidak stagnan bahkan mati. ( Alam/Diana )

Mer, Sby - Kompetisi Teater Indonesia Piala WS. Rendra, bakal digelar di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya selama sepekan pada awal Nopember mendatang, Dari namanya saja, bisa disimpulkan kalau kompetisi ini untuk mengenang almarhum WS Rendra. Ketua Panitia Penyelenggara Farid Syamlan mengatakan latarbelakang diadakannya acara ini adalah pertama karena Rendra merupakan tonggak teater modern Indonesia. Lalu kedua, karena Rendra adalah sosok yang selalu konsisten membela kebenaran dan keadilan, bahkan hingga ajal menjemputnya. Itulah yang mendasari digelarnya Kompetisi Teater ini tepat di hari lahir Rendra, tanggal 7 Nopember. Di tanggal 8 Nopember, panitia mengadakan acara Haul 75 tahun si Burung Merak, panggilan akrab WS Rendra semasa hidup. Nantinya, acara ini akan dilaksanakan setiap tahun.

" Kompetisi teater tingkat nasional ini baru pertama kali digelar, dan akan diikuti 50 kontestan kelompok teater. Target kami 50 peserta se Indonesia itu, karena terkait dibatasinya waktu pementasan. Sementara dalam penjaringan sebelumnya, kami berhasil mengumpulkan 200 an peserta se Indonesia ", kata Farid Syamlan pada reporter Alam Kusuma.

Selain untuk kelompok teater umum, kompetisi ini juga membidik kelompok teater kampus. Karena almarhum Rendra sendiri, awal berkarir di teater dari lingkungan kampus, Universitas Gajah Mada ( UGM ) Jogyakarta.

Kompetisi Teater Indonesia Piala WS. Rendra akan dimarakkan dengan kehadiran Leo Kristi yang sebagian besar lirik lagunya diilhami oleh syair WS Rendra, dan Ken Zulaida, istri almarhum WS Rendra yang juga menjadi pegiat teater kawakan. Hadir pula aktor Aleks Komang yang akan jadi pembicara dalam Workshop Penyutradaraan dan Keaktoran. Sedangkan budayawan KH. Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus, akan menyumbangkan karya puisinya pada sesi penutupan. ( Alam/Diana )

Mer, Sby - Rencana Pemprov Jatim untuk merestorasi atau merekontruksi bangunan kerajaan Majapahit mendapat sambutan dari sejumlah pihak sebagai sebuah langkah positif, bila dikaitkan dengan upaya menumbuhkembangkan industri wisata Jatim sekaligus mengandung tujuan membangun kembali karakter bangsa. Namun hendaknya rencana tersebut tidak hanya sepenggal saja dan hanya berorientasi pada pengadaan proyek yang muaranya pada mencari keuntungan semata.

Menurut Pengamat Sosial sekaligus Praktisi Media Darmantoko, langkah membangun kembali sejarah kejayaan Majapahit, akan lebih pas bila dikaitkan dengan semangat heroisme kemunculan Kerajaan Majapahit ketika mengalahkan tentara Tar Tar, sehingga nilai sejarah tersebut. bisa mengilhami generasi sekarang membentuk karakter heroisme yang kini dipandang sudah semakin melemah.

" Ketika kita merekonstruksi fisik masa lalu yang kita aktualisasikan saat ini, yang penting adalah nilai sejarahnya bermanfaat bagi generasi penerus di masa sekarang. Saran saya program ini jangan semata-mata dijadikan proyek mencari keuntungan. Kalau itu yang muncul, maka hanya akan ada distorsi-distorsi kepentingan ", kata Darmantoko pada reporter Wahyu Nugroho.

Seperti dikupas dalam News On The Spot sebelumnya, gagasan restorasi Kerajaan Majapahit bakal direalisasikan oleh Pemprov Jatim dalam waktu dekat. Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan bahwa restorasi ini sebuah upaya untuk membangun industri wisata di Jatim, sekaligus untuk membentuk kembali karakter masyarakat lewat simbol Majapahit yang pernah jaya di masanya. ( Why/Diana )

Mer, Sby - Pemerintah Provinsi ( Pemprov ) Jawa Timur, kini tengah menggagas sebuah upaya untuk mengembalikan sejarah masa kejayaan kerajaan Majapahit, dengan merestorasi bekas Kerajaan Majapahit termasuk lingkungannya. Untuk keperluan itu, Pemprov Jawa Timur telah menyiapkan dana sebesar Rp 1 Trilyun. Lalu seberapa pentingkah sehingga Pemprov segera ingin merealisasikan rencana tersebut?

Gubernur Jawa Timur Soekarwo, yang akrab disapa Pakde Karwo menyatakan restorasi Kerajaan Majapahit mempunyai sejumlah tujuan, selain menciptakan ikon wisata yang prospektif di Jawa Timur. Restorasi itu juga sebagai upaya membangun kembali karakter bangsa.

" Namanya Majapahit Park. Tahun ini kami sudah merencanakan sebuah Details Engineering Design untuk proyek tersebut, Kita baru tahu kalau ternyata luasnya Kerajaan Majapahit itu 11 x 11 kilo meter. Khusus luas wilayah Keraton, 5 x 5 kilo meter. Nah yang mau kita buat restorasi ini, kurang lebih 1 x 1 kilometer. Lokasinya antara lain di sekitar pemandian. Untuk itu, akan ada pembebasan lahan di Wringin Lawang masuk dekat Rumah Makan Sari Bundo. Untuk warga yang rumahnya diluar area 1 x 1 kilometer akan kami beri uang misalnya Rp 15 Juta, silakan rehab rumahnya seperti model Majapahit. Kami sudah siapkan prototypenya bekerjasama dengan arsitek perguruan tinggi. Kalau memang ada warga yang menolak, nggak masalah. Yang jelas, kami tidak akan menggusur mereka demi proyek ini ", kata Soekarwo pada reporter Wahyu Nugroho.

Pakde Karwo menjelaskan latarbelakang munculnya ide restorasi Kerajaan Majapahit ini, untuk memperkenalkan kembali masa-masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada generasi muda sekarang. Selain itu, diharapkan dengan adanya restorasi Kerajaan Majapahit ini, nilai devisa dalam negeri dari sektor pariwisata lebih meningkat. Jaraknya dari Surabaya sebagai Ibukota Provinsi Jawa Timur pun tidak terlalu jauh, sekitar 50 kilo meter atau 1 jam perjalanan. ( Why/Diana )

Mer, Sby - Innalillahi Wa Inna Illaihi Rajiuun. Telah berpulang ke Rahmatullah, seniman gaek Gesang Martohartono. Pencipta lagu Bengawan Solo ini wafat di ruang rawat ICU RS PKU Muhammdyah, Solo.

Menurut Ketua Tim Dokter Dr Suryo Adi Wibowo, Gesang meninggal pada pukul 18.10 WIB.

"Kondisinya memang semakin drop semenjak setengah dua siang," kata Suryo saat di temui di RS PKU Muhammdyah, Solo, Kamis (20/5/2010).

Rencananya, jenazah Gesang yang kini berada di rumah duka Jalan Bedoyo No 5, Kemlayan RT 01 RW 03, Solo, akan dimakamkan secara militer di pemakaman keluarga. Meskipun Gesang seorang warga sipil, namun penghargaan bintang budaya Parama Dharma yang diberikan negara kepadanya, telah menyejajarkan dirinya dengan seorang pahlawan.

Atas kesepakatan keluarga dengan Pemkot dan Kodim setempat, Gesang akan dimakamkan di Pemakaman Pracimaloyo, Makamhaji, Sukoharjo. Pemakaman akan dilakukan secara kemiliteran, dipimpin oleh Danrem 074/Warastratama Kol (Inf) Abdul Rahman Kadir, pada Jumat (21/5/2010) sekitar pukul 14.30 WIB.

"Beliau menerima anugerah bintang budaya Parama Dharma, sehingga disejajarkan dengan pahlawan. Beliau juga berhak dimakamkan di taman makam pahlawan, namun keluarga menghendaki pemakaman Pracimaloyo sesuai pesan almarhum ketika masih hidup," ujar Dandim
0735/Surakarta, Letkol Inf Agus Subiyanto, di rumah duka.

Nampak kerabat Gesang yang telah berkumpul di rumah duka melakukan sholat jenasah bersama.

Selain para tetangga, sejumlah seniman juga terlihat hadir melayat. Di antara yang hadir adalah senias Garin Nugroho yang kebetulan sedang ada acara di Solo. Sedangkan tamu penting yang akan hadir melayat Jumat besok adalah Menko Kesra Agung Laksono, yang akan datang mewakili Presiden.

Sekilas balik mengingat perjalanan seorang Gesang, yang segera muncul ketika ngobrol dengan Gesang adalah kesan tentang seorang pria

sahaja, sederhana, jujur dan tidak sedikitpun tersirat niatan untuk memperlihatkan kebesaran namanya. Sikap sederhana dan tak banyak riak itu juga terpancar dari sorot matanya yang tenang dan polos, seakan hanya sedang mengambil intisari dari apa yang dilihat untuk diserap dalam benaknya.

Sebelum sakit-sakitan karena tergerus usia, detikcom beberapa kali menghabiskan pagi bersama, karena memang tak sulit bertemu dengannya dan kebetulan sering lewat depan kediaman Gesang. Hampir setiap pagi, Gesang selalu menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di emperan rumah atau di ruang tamu rumah adiknya di Jalan Bedoyo No 5, Kemlayan, Solo.

Dua tahun yang lalu misalnya, dengan ramah dia menerima detikcom. Saat itu dia telah mengalami sejumlah kemunduran fungsi tubuhnya,terutama pendengarannya. Namun setelah dapat menangkap pembicaraan lawan bicaranya, terlihat ingatannya masih segar. Begitu dia bercerita tentang liku-liku proses kreatif keseniman, penciptaan lagu-lagu, hingga kisah hidup dan percintaannya, akan segera terlacak di balik kesederhanaan itu Gesang adalah sosok seniman besar.

Sikap hidupnya yang sederhana itu merembes dalam wilayah proses kreatif. Diksi-diksi sederhana mendominasi syair-syair lagunya namun tak mengurangi tingkat capaian musikal dan puitikanya. Justru dalam kesederhanaan itulah termuat kelebihan lagu-lagu karya Gesang.

"Tak banyak lagu yang saya ciptakan, hanya sekitar dua puluh hingga tiga puluh lagu selama saya menggeluti musik keroncong dari tahun 1935," paparnya polos dan tanpa ada terbersit nada congkak atau niatan memperlihatkan kebesaran.

Apakah dia masih ingat judul seluruh lagu ciptaannya, dengan polos juga dia menjawab, "Dari muda juga saya memang tidak ingat seluruh lagu ciptaan saya itu. Semua sudah saya serahkan kepada masyarakat. Paling-paling kalau saya mendengarnya lagi, baru akan ingat lagi dan dalam hati sepertinya itu lagu saya yang dulu," katanya.

Hampir seluruh karyanya dapat diterima masyarakat, terbukti dengan melegendanya lagu-lagu itu. Sebut saja misalnya lagu ‘Bengawan Solo’ dan 'Jembatan Merah’ untuk jenis langgam dan keroncong berbahasa Indonesia. Saking terkenalnya kedua lagu tersebut hampir-hampir tak terpisahkan ketika kita sedang menggambarkan Kota Solo dan Kota Surabaya. Lagu-lagunya yang berbahasa Jawa juga sangat lekat di hati penggemar langgam Jawa. Sebut saja misalnya langgam ‘Ali-ali’, ‘Caping Gunung’ atau 'Dongengan'.

Gesang Martohartono, demikian nama lengkap maestro keroncong dan langgam yang sulit dicari gantinya itu. Dia dilahirkan di kampung Kemlayan, Solo, 1 Oktober 1917. Dia lahir sebagai anak kelima dari sepuluh anak pasangan Martodihardjo dan Soeminah. Orangtuanya semula memberinya nama Soetadi.

"Waktu kecil katanya saya sakit-sakitan. Sesuai tradisi orang Jawa, anak yang sakit-sakitan mungkin karena namanya tidak cocok. Lalu nama saya diganti menjadi Gesang lalu setelah menikah ditambahi Martohartono. Gesang itu artinya hidup. Itu doa orangtua saya agar saya awet hidup. Ternyata doa itu dikabulkan, saya tidak lagi sakit-sakitan dan awet hidup hingga sekarang," tuturnya.


Kreator Modal Terbatas

Dia memulai ketertarikannya pada dunia keroncong dengan bergabung di sebuah grup keroncong di kampung asalnya, sejak tahun 1935. Di masa lalu, Kemlayan memang dikenal sebagai perkampungan seniman dan sarat dengan kegiatan berbagai macam bidang seni tradisi maupun
modern, termasuk seni keroncong.

Sejak awal bergabung hingga namanya melejit sebagai pencipta lagu, Gesang selalu tampil sebagai penyanyi. Posisi abadinya itu mengakibatkan dia sama sekali tidak mampu memainkan alat musik apapun kecuali seruling Jawa, itupun cuma sebatas mencari-cari nada ketika akan mencipta lagu. Setelahnya semua aransemen dikerjakan oleh orang lain.

Kegagalan Rumah Tangga

Pendidikan formal anak kelima dari sepuluh bersaudara itu hanyalah tamat sekolah rakyat. Dia berasal dari keluarga pedagang batik. Karenanya bakat seni yang mengalir dalam dirinya merupakan sesuatu yang benar-benar baru di tengah keluarganya. Seluruh saudaranya tidak ada yang menekuni dunia seni.

Semula Gesang juga mengikuti jejak bisnis keluarga. Meskipun terus menyanyi, ia mencoba menjadi pedagang dengan membuka toko. Usaha yang dirintisnya menunjukkan kemajuan, hingga pada tahun 1941 dia memberanikan diri meminang Waliyah, gadis asal Notosuman, kampung yang berada tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Gesang.

Rupanya garis hidup tak menghendakinya sebagai pedagang. Tahun 1945 tokonya tak terurus dan mengalami kebangkrutan karena dia lebih asyik menekuni kesenian. Kondisi ekonomi keluarganya pun jatuh, karena tidak aktifitas keseniannya tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ditambah lagi dengan persoalan tidak segera dikaruniai keturunan hingga akhirnya 1963 perkawinannya benar-benar tak bisa dipertahankan.

Belajar dari kegagalan keluarga itulah akhirnya Gesang memutuskan tidak menikah lagi dan menyerahkan seluruh sisa hidupnya untuk membesarkan dunia seni keroncong.

Rumah Hadiah dan Sadar Posisi

Lagu-lagu yang lekat di hati pendengar maupun ketenaran nama, ternyata tidak serta-merta diikuti kondisi kehidupannya. Rumah tinggal berdinding bambu yang telah 40 tahun dihuninya semakin tidak layak huni dan termakan waktu. Sementara para pengagumnya, terutama dari Jepang dan Cina, semakin banyak datang mencarinya.

Keadaan ini diketahui Pemerintah. Pada tahun 1980 Soepardjo Roestam, Gubernur Jawa Tengah saat itu, menghadiahkan kepadanya sebuah rumah tipe 21 di Jalan Nusa Indah Blok III/8, Perumnas Palur, Karanganyar.

Namun rumah tersebut dia kosongkan sejak 2001 lalu, karena keluarga memutuskan memindahkannya di rumah Thayib, adik kandungnya, di Kemlayan, Solo. Alasannya kondisi yang semakin pikun dan tidak ada yang merawat.

"Dulu saya tinggal di Palur bersama seorang cucu keponakan, sekarang dia sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta. Khawatir terjadi apa-apa pada saya yang tinggal sendirian, para adik dan keponakan meminta saya tinggal bersama salah satu dari mereka. Saya memilih di Kemlayan ini, kampung asal saya," ujar Gesang saat itu kepada detikcom.

Sikap kelegawaan dan kerendahan hatinya juga nampak dari keberatannya menerima gelar kehormatan sebagai seorang abdidalem anon-anon, yaitu sebuah gelar kehormatan dari Keraton Surakarta yang diberikan bagi orang yang dinilai mumpuni dalam bidangnya dengan gelar sebagai raden tumenggung.

"Yang jelas saya pakewuh (tak enak hati), bukan pada siapa-siapa tapi pada diri sendiri. Apa pantas saya mendapat sebutan tumenggung. Saya ini orang kecil, takut kuwalat. Di samping itu juga ada kewajiban harus marak sowan (menghadap raja), saya kira kesehatan saya sudah tidak lagi mengizinkan", papar Pak Gesang memberikan alasan keberatannya tersebut.

"Waktu kecil saya di Kemlayan ini, tetangga saya para priyayi yang memiliki keahlian di bidang seni jauh lebih tinggi dari saya namun gelarnya hanya lurah atau bekel. Lha ini, saya yang orang kebanyakan tiba-tiba kok terus dipanggil ‘pak menggung’. Saya jadi pakewuh dan harus banyak berkaca diri. Sudahlah Pak Gesang saja sudah cukup", lanjut penerima anugerah Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah pada tahun 1992 itu.

Kesahajaannya ini pula mungkin yang ikut membesarkan namanya. Zaman demi zaman ia lalui dengan tenang dan pasti. Ibarat bengawan, Gesang adalah alir yang dalam dan tenang dan tak meruahkan banyak riak dan Gesang akan terus menikmati aliran bengawan hidupnya itu.

Seperti yang pernah ditulis dalam sebuah lagu gubahannya, bahwa tentang suratan sejarah hidupnya Gesang akan terus mengalir sampai jauh akhirnya (menuju) ke laut, muara dan arah singgahnya. Dan semuanya dengan penuh sahaja dan kepastian pada pilihannya.


Malam ini dia meninggalkan kita selamanya. Kita jadi diingatkan bahwa kita pernah memiliki seorang sosok besar yang membungkus dirinya dengan kesederhanan. Dia sama sekali tidak pernah merasa penting meskipun dia pantas merasa diri sebagai orang penting. Dia tidak pernah meminta lebih, bahkan seringkali kita mencuri rezekinya dengan mengabaikan membayar royalti atas karya-karya ciptaanya.

Malam ini kita ditohok Mbah Gesang. Kita harus berkaca, di saat kita telah sok merasa penting, apakah kita telah mampu berbuat banyak dalam menjaga harmoni dan kebaikan bersama. Kita harus berkaca, di saat kita masih menginginkan sesuatu yang berlebih, apakah itu memang milik kita. Sebab konon separo kerusakan yang terjadi di muka bumi ini disebabkan oleh orang-orang yang merasa penting, sedangkan separonya lagi adalah akibat dari orang-orang yang serakah.


Selamat jalan Mbah Gesang, 'mengalirlah' dengan tenang. ( Detik/Mer )


Mer, Sby - Surabaya sebentar lagi mempunyai pemimpin baru yang akan memandu Surabaya 5 tahun ke depan. Berbagai persoalan dihadapi oleh kota yang tengah menuju menjadi kota modern ini. Antara lain adalah pelestarian aset-aset kesenian tradisional khas Surabaya, misalnya Taman Hiburan Rakyat ( THR ) yang pernah berjaya di era tahun 70-an hingga menjadi ikon Surabaya kala itu.

Di tempat itu pernah digelar berbagai pertunjukan seni tradisional seperti Srimulat, Ketoprak, Ludruk dan Wayang Orang. Namun seiring dengan berjalannya waktu, aura THR meredup bahkan terlupakan ditengah desakan budaya modern.  Harapan untuk menghidupkan kembali eksistensi THR terutama gedung-gedung kesenian di tempat itu, digantungkan kepada Walikota Surabaya yang baru nantinya.

Juru bicara Organisasi Seduluran Surabaya Mohammad Ayan mengatakan siapa pun yang nantinya terpilih, diharapkan bisa jadi lumbung aspirasi warga Kota Surabaya, termasuk aspirasi warga kesenian di Surabaya yang ingin menghidupkan kembali THR. Dengan begitu, paling tidak masyarakat Surabaya bisa lebih mengenal kesenian Jawa Timur yang dulu pernah jadi kebanggaan bersama sebelum banyaknya bermunculan konser-konser musik modern.

Mohammad Ayan menambahkan saat ini THR tengah di setting menjadi kampung seni, sebagai upaya menghidupkan kembali THR. Berbagai seni kerajinan tangan dipajang dan dijual oleh sejumlah kios. Sedangkan Gedung Srimulat yang awalnya terbengkalai, kini sudah direnovasi. Tapi sepertinya upaya ini belum cukup menggeliatkan THR. Upaya Pemkot Surabaya masih tampak setengah hati. Buktinya,
THR masih saja sepi pengunjung. ( Alam/Diana )