Fluoride Penting, tapi Jangan Berlebihan
MESKI berguna untuk menghindari gigi keropos pada anak dan mengobati osteoporosis, penggunaan fluoride secara berlebihan memiliki efek yang tidak baik untuk kesehatan.
Penggunaan fluoride memang bermanfaat untuk memperkuat email gigi anak dan membantu dalam pengobatan osteoporosis. Namun, pemberiannya tidak boleh berlebihan.
Terlalu banyak kandungan fluoride dalam tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan lain karena zat ini dapat menjadi karsinogen yang menyebabkan kanker tulang, paru-paru, dan kandung kemih.
Para pejabat Kementerian Kesehatan di Amerika Serikat mengemukakan bahwa saat ini banyak warganya yang sudah terlalu banyak mengonsumsi fluoride, karena kandungannya tidak hanya terdapat di air minum tetapi juga dalam pasta gigi, obat kumur, dan produk lainnya.
Kebanyakan fluoride dapat menyebabkan bercak-bercak pada gigi anak dan masalah kesehatan lain yang mungkin lebih serius. The US Department of Health and Human Services (HHS) pada Jumat (7/1) telah mengumumkan rencana untuk menurunkan batasan kandungan fluoride yang diperbolehkan dalam air minum untuk pertama kalinya dalam hampir 50 tahun, berdasarkan pada sejumlah hasil studi terbaru.
Kebijakan ini merupakan babak baru “pertempuran” dengan fluoride. Meskipun, penambahan fluoride dalam kandungan air mineral dianggap sebagai salah satu keberhasilan kesehatan masyarakat yang terbesar pada abad ke-20.
Prevalensi warga Amerika Serikat yang menderita pembusukan atau keropos dalam setidaknya satu gigi di kalangan remaja telah menurun dari sekitar 90% menjadi hanya 60%. Awalnya, pemerintah mendesak sistem air di perkotaan untuk menambahkan zat fluoride di awal 1950-an.
Sejak itu, fluoride mulai dimasukkan ke dalam kandungan pasta gigi dan obat kumur. Hal ini juga banyak dilakukan di banyak merek air kemasan dan minuman soda. Beberapa anak bahkan mengonsumsi fluoride dalam bentuk suplemen. Karena itu, sekarang ini anak-anak sepertinya terlalu banyak mengonsumsi fluoride.
“Seperti juga apa pun di dunia ini, memiliki atau mengonsumsi secara berlebihan bukan hal yang baik,” kata Dr Howard Pollick, seorang profesor di University of California, sekolah kedokteran gigi di San Francisco dan juru bicara untuk American Dental Association (ADA) seperti dikutip Associated Press.
Salah satu alasan di balik perubahan kebijakan ini adalah sekitar dua dari lima remaja Amerika Serikat memiliki gigi tergores atau bernoda karena terlalu banyak fluoride, seperti ditemukan sebuah penelitian baru-baru ini yang dilakukan pemerintahnya.
Dalam kasus ekstrem, gigi mengalami kerusakan karena paparan mineral tersebut, meskipun banyak kasus disebut ringan oleh para dokter gigi. Masalahnya adalah umumnya kerusakan ini dianggap kosmetik belaka dan bukan alasan untuk perhatian yang serius.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kondisi bercak-bercak pada gigi, atau disebut fluorosis, secara tak terduga sering dialami oleh anak-anak di usia 12 sampai 15 tahun dan tampaknya telah berjalan lebih umum sejak 1980-an. Namun, berkembang juga kekhawatiran tentang bahaya yang lebih serius dari kelebihan fluoride.
The Environmental Protection Agency meluncurkan dua tinjauan terbaru tentang penelitian terkait bahaya fluoride. Salah satu studi menemukan bukti bahwa asupan yang berkepanjangan dan kandungan fluoride yang tinggi dalam tubuh akan meningkatkan risiko tulang rapuh, patah tulang, dan kelainan tulang yang menyebabkan kelumpuhan.

