Usaha Ritel Lesu, Aprindo Jatim Masih Optimis Retail Tumbuh

October 31, 2017

 

Sby, MercuryFM - Di tengah melesatnya dunia bisnis yang menggunakan basis transaksi secara online, agaknya menjadi antitesis bagi bisnis atau usaha retail, yang selama ini berjalan. Secara perlahan, satu demi satu usaha retail mulai berjatuhan, nama-nama besar seperti Ramayana, Matahari, dan Lotus terkena dampak secara langsung dari berubahnya model bisnis di tengah perkembangan teknologi saat ini.

 

Dampak dari kondisi ini juga dirasakan pengusaha ritel di Jawa Timur. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim, April Wahyu. Harus diakui kenyataan saat ini tren omset kondisi bidang usaha ritel di Jawa Timur sedang menurun. “Penurunan ini dari 2016 hingga 2017, sebesar 15 sampai 20 persen. Bahkan di daerah tertentu mencapai nilai sebesar 25 persen,” kata April Wahyu, Selasa (31/10/2017) 

 

Penurunan ini, lanjutnya, karena adanya perubahan pola konsumsi dari para customer. Pola yang awalnya para customer berfokus pada konsumsi bahan dasar, ternyata saat ini bergeser polanya menjadi konsumsi hiburan atau jalan-jalan.

 

"Menurut data dari BPS yang kami olah, angka perubahan pola konsumsi bahan dasar customer sebesar 4,94 persen pada tahun lalu, dan naik menjadi 4,95 persen tahun ini. Sedangkan, pola konsumsi bahan hiburan customer lebih drastis alami peningkatan sebesar 5,14 persen pada tahun lalu, dan menjadi 5,87 persen tahun ini,” paparnya.

 

Artinya, masih kata April, perilaku konsumsi customer terhadap bahan dasar kecenderungannya adalah stagnan, sedangkan keperluan bahan dasar ini mayoritas dipasok oleh para riteler, hal ini juga menjadi pemicu berkurangnya omset bisnis ritel saat ini. Tolok ukurnya sederhana, saat ini mal tau ritel modern yang masih bertahan adalah mal atau ritel yang berisi produk lifestyle, sedangkan yang berisi produk bahan dasar kian ditinggalkan.

 

“Tentu selain itu juga terdapat faktor lainya seperti, harga sewa bangunan ataupun tanah yang tiap tahun semakin naik, sehingga cost pada wilayah produksi kian membengkak, ini menuntut para pelaku melakukan switching store dengan menutup beberapa store atau gerai,” ceritanya.

Ditambahkannya, dengan adanya perubahan pola konsumsi dari para customer, para pelaku bidang usaha ritel harus responsif dalam menangkap perkembangan perilaku pasar. Terlebih saat ini customer menginginkan pelayanan yang cepat, dan ringkas, sehingga mereka tidak lagi suka berkeliling mal yang bersifat heterogen untuk mendapatkan produk yang mereka cari.

 

"Ada berbagai langkah strategis ya, salah satunya adalah para pelaku usaha ritel harus membuat store yang bersifat khusus (special store). Maksud saya adalah, setiap store punya produk khusus seperti ketika store itu berisi produk untuk kebutuhan anak-anak, maka seluruh isi store tersebut berisi kebutuhan pengkhususan tersebut, tapi ke depan kami masih optimis, terlebih pemerintah akan melakukan revisi Perpres 112 terkait kebijakan usaha ritel,” pungkasnya.(Dani)

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive