• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

BUTA POLITIK LEBIH BERBAHAYA DARIPADA BUTA HURUF

November 3, 2017

 

Sby,MercuryFM - Buta politik lebih bahaya daripada buta huruf. Karena hampir semua kebutuhan hajat hidup seluruh masyarakat ditentukan oleh proses politik. baik di parlemen ataupun dipemerintahan serta tempat tempat lain pengambil kebijakan publik. 

 

"Seorang filosof Jerman yang menyatakan orang yang bodoh itu bukan karena buta huruf melainkan orang yang buta politik. Sejak awal kehidupan seseorang sudah diatur dalam konstitusi karena itu buta politik sebenarnya itu jauh lebih berbahaya dari buta huruf," ujar Wakil ketua Komisi II DPRRI Fandi Utomo, saat menjadi narasumber sosialisasi UU No.7 tahun 2017 tentang Pemilu bersama KPU RI di Unair Surabaya, Jum'at (3/11).

 

Menurut politisi partai demokrat ini,  saat ini penyiapan instrument yang cukup seperti  parpol, penyelenggara pemilu dan sarana serta prasarana yang mempermudah orang menggunakan hak pilih (berpartisipasi) maupun menyediakan anggaran yang cukup harus disiapkan dengan matang. agar angka buta politik bisa diminimalisir kedepan.

 

"Di sisi lain, stigma politik itu jelek dan buruk sebetulnya juga harus dijelaskan ke masyarakat khususnya melalui pendidikan. Ini penting sebab dalam politik itu ada kebajikan yang diperjuangkan jadi tidak ada politik tanpa kebajikan. Kalau ada pertempuran antara kebaikan dan  keburukan itu suatu keniscayaan," ungkapnya. 

 

Diakui Fandi, dalam sistem pemilu terbuka memang menimbulkan persoalan, karena memilih orang-orang yang berkompeten dan berintegritas itu tidak menjadi parameter utama karena parameter yang digunakan adalah popularitas dan elektabilitas yang tak inlainder dengan integritasnya. Namun disisi lain sistem terbuka juga memiliki kelebihan yaitu mendekatkan pemilih dengan wakilnya. 

 

Sementara itu ketua KPU RI, Arif Budiman yang juga menjadi pembicara di acara tersebut mengatakan, kepada pemilih pemula kebijakan pentingan perpolitikan dalam menjalankan kebijakan perlu terus di gelorakan. Pemilih pemula itu harus terinjeksi dengan persoalan yang dihadapi dan buah dari keputusan politik. 

Dicontohkan, kenapa biaya sekolah atau kuliah saat ini sangat mahal. Karena itu pemilih pemula harus ikut terlibat dan mencari solusi atas kebijakan politik yang dinilai tak sesuai dengan keinginan publik.

 

"Terlibat dalam persoalan politik itu supaya bisa mempengaruhi keputusan. Misal ngomong pendidikan murah, maka Anggaran pendidikan melalui keputusan politik harus dinaikkan supaya pendidikan bisa murah. Ingat Jumlah pemilih pemula di Indonesia mencapai 60-70 juta. Bahkan trend saat ini gerakan anak muda di politik juga semakin meningkat." ungkap Arief Budiman.

 

Kelompok lain kata Arif  juga demikian, seperti petani apakah harga pupuk sudah murah dan mudah terjangkau. Sehingga mereka akhirnya berani dan ikut terlibat dalam politik. Karena ujung dari berbagai persoalan ditentukan oleh keputusan politik. 

 

"Sosialisasi ini sebetulnya bertujuan supaya masyarakat yang memiliki hak pilih tertarik menggunakan hak pilihnya, karena kewenangan KPU hanya pada penyelenggaraan," tegas mantan komisioner KPU Jatim ini.  

 

Sedangkan tugas parpol, lanjut Arief justru lebih besar peranannya yaitu melakukan pendidikan politik bagi konstituennya. Untuk mendukung tugas tersebut, pemerintah juga memberikan sinyal positif  menyetujui supaya anggaran parpol di naikkan hampir 10 kali dari Rp.100 per suara menjadi Rp.1000 per suara.

 

"Dengan kebijakan tersebut maka diharapkan parpol sebagai intrumen politik yang ada di tengah masyarakat bisa memberikan pemahaman kepada anggotanya. yang imbasnya nanti anggota parpol bisa meneruskan memberikan pemahaman yang konprehensif pula kepada masyarakat pentingnya menyuarakan hak politiknya dalam ikut menentukan kebijakan nantinya," ujarnya.(Ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive