• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

GINSI : Biaya Logistik Impor di Indonesia Terus Melambung Tinggi

November 13, 2017

 

Sby, MercuryFM - Dwelling time di pelabuhan Indonesia memang sudah sesuai harapan. Tetatpi cost logistic (biaya logistik) pelabuhan di Indonesia bukannya turun, malah terus meningkat.

 

Ketua Umum Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI) Anton Sihombing mengatakan 
pemerintah telah berhasil menekan dwelling time (waktu tinggal) di pelabuhan menjadi 3,5 sampai 4 hari. Hal ini sesuai dengan apa yang diharapkan para importir yang tergabung di GINSI. Namun diakui Anton untuk biaya logistik di pelabuhan di Indonesia masih terus meningkat dan menjadi masalah yang membebani para importir di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.

 

"Seharusnya, dalam penentuan kenaikan tarif di pelabuhan, GINSI dilibatkan," ujar Anton saat memberikan keterangan pers di Hotel Shangri-La, Senin (13/11/2017).

 

Anton menegaskan biaya logistik tinggi di Indonesia menyebabkan daya saing perdagangan Indonesia tertinggal. Biaya logistik Indonesia, kata dia, bahkan masih berada di bawah Vietnam.

Dari data yang ada GINSI menyebutkan, biaya logistik di pelabuhan di Indonesia rata-rata masih di kisaran 30 persen sampai 36 persen dari total biaya operasional barang. Padahal di Singapura cost logistic hanya di kisaran 16 persen, sedangkan di Malaysia hanya 17 persen.

 

 

Anton memaparkan masih tingginya cost logistic di Indonesia ini bertolak belakang dengan apa yang diinginkan oleh Joko Widodo Presiden untuk menurunkan biaya logistik. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kenaikan biaya ini adalah peraturan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan yang seringkali berganti-ganti, dan saling tumpang tindih.

"Aturan belum selaras sehingga mengakibatkan berbagai masalah, salah satunya belum tercapainya cost logistic yang berpihak pada importir Indonesia. Seharusnya Indonesia malu, daya saingnya masih di bawah Vietnam," paparnya.

Sementara itu, Erwin Taufan Sekjen Badan Pengurus Pusat (BPP) GINSI mengatakan, akibat yang paling berat dari cost logistic tinggi ini akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

"Kenaikan tarif pelabuhan itu tidak seksi. Karena dengan Cost logistic yang tinggi, akibatnya harga jual barang menjadi tinggi. Ini sangat buruk dan bertolak belakang dengan upaya pemerintah meningkatkan daya beli," ujarnya.

Dampak biaya logistik ini selain berpotensi menurunkan daya beli masyarakat juga mampu membuat pengusaha atau importir gulung tikar.

Ketika daya beli masyarakat turun, barang tidak terbeli. Akibat jug akan dirasakan, terutama oleh importir produsen, yang mengimpor bahan baku atau komponen untuk produksi dalam negeri.

"Ada kemungkinan, mereka akan gulung tikar atau justru beralih ke impor barang jadi (importir umum), karena dengan impor barang jadi, jatuhnya harga menjadi jauh lebih murah," ujarnya.

Menurutnya, hal ini juga tidak sesuai dengan keinginan pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap industri dalam negeri.

Beberapa usulan GINSI berkaitan biaya logistik ini selanjutnya akan disampaikan kepada kementerian perdagangan dalam momen pengukuhan Ketua Badan Pengurus Daerah GINSI Jatim yang baru.

BPD GINSI Jatim akan memiliki pemimpin baru. Romzi Abdullah Abdat akan dikukuhkan sebagai Ketua BPD GINSI Jatim yang baru pada Selasa (14/11/2017).(Dani)

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive