EKONOMI MUSLIM INDONESIA JAUH TERTINGGAL

November 23, 2017

 

Sby,MercuryFM -  Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia sampai sekarang hingga dirasa masih terlalu umum, bahkan bisa dikatakan tertinggal dengan negara lain. Masalahnya Indonesia hingga kini masih menerapkan Islamic Finance yang sudah umum. Begitu kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Ekonomi Syariah Universitas Airlangga Raditya Sukmana

"Ekonomi muslim Indonesia jauh ketinggalan. Begitu juga di bidang pendidikan dan kesehatan. Padahal itu semua kontribusi penting yang disediakan fasilitasnya oleh pemerintah," kata Raditya Sukmana di Universitas Muhammadiyah Surabaya saat menjadi pembicara dalam seminar "Membangun Kekuatan Ekonomi Umat Berbasis Riset", Rabu (22/11/2017).

Kata Raditya, Islamic Development Bank (IDB) sudah mengeluarkan Islamic Social Finance. Program ini bertujuan agar masyarakat merasakan dampaknya. Contohnya adakah wakaf dan zakat.

"Kalau Islamic Finance sendiri sudah umum, contohnya adalah bank syariah. Padahal Indonesia merupakan negara yang didominasi umat muslim sebesar 70 persen. Dan ini harus dikembangkan," ujarnya.

Pria yang aktif menulis di sejumlah media massa itu mencontohkan negara timur tengah terutama Arab Saudi, telah mengembangkan Islamic Social Finance melalui wakaf dengan Sukuk Al Intifa. Waktu itu, Raja Salman memberikan waqaf tanahnya yang berada dekat dengan Ka'bah untuk pembangunan Zam Zam Tower di Makkah.

Dengan berbasis akad ijarah, Nadzir (pengelola wakaf) menyewakan tanah wakaf yang dikelolanya kepada pihak pengembang yang tertarik untuk membangunkannya.

Dengan biaya sewa yang disepakati oleh pengembang, mereka membangunkan gedung yang dimaksud dalam masa kontrak sebagai biaya sewa atas tanah wakaf yang dikelolanya. Mengingat besarnya dana awal yang dibutuhkan, pengembang kemudian menerbitkan sukuk ijarah di lantai bursa.

"Dengan penerbitan sukuk ini, pengembang memiliki modal yang cukup untuk mulai beroperasi dan membayar kewajiban biaya sewa kepada pemerintah Arab Saudi. Sukuk yang diterbitkan pengembang inilah yang disebut sebagai sukuk al-intifa. Dikatakan al-intifa (mengambil manfaat) karena sukuk tersebut pada dasarnya bukanlah sukuk yang berbasis tanah, melainkan gedung. Dan pengembang akhirnya menyilahkan orang yang dapat sukuk selama berapa tahun untuk menginap disana," jelas Raditya.

Jangankan negara muslim, Korea saja kata Raditya kini telah mengembangkan ekonomi syariah. Mereka memproduksi makanan halal atau jadi produsen dan mengirim produknya ke negara Indonesia sebagai konsumen.

"Mereka tahu bonus demografi masyarakat Indonesia adalah Islam yang besar. Kapan Indonesia bisa besar kalau hanya jadi konsumen saja," tegasnya. (alam)

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group