• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

JIKA SEMUA BERSINERGI, HARGA BERAS TIDAK PERLU NAIK.

January 16, 2018

 

Sby,MercuryFM - Masih tingginya harga beras yang banyak dikeluhkan masyarakat kita saat ini, khususnya di Jawa Timur (Jatim) sebagai solusi yang banyak ditawarkan untuk mengatasi permasalah ini adalah dengan menggelarnya Operasi Pasar(OP) oleh pemerintah, khususnya Perum Bulog. Terkait dengan problem seperti ini yang terus berulang, 96FM Mercury coba mengkonfirmasikannya dengan Pengamat Ekonomi Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM.

Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM yang akrab disapa Mei ini kepada 96FM Mercury menjelaskan, sesunguhnya yang terjadi di Jatim saat ini dengan harga beras yang tinggi, berubah menjadi permasalahan serius, karena terkait dengan bahan dasar pangan masyarakat Indonesia. "Nah, hebatnya lagi, problem seperti ini menjadi berulang. Dan respon dari pemerintah sendiri bersama dengan dinas-dinas terkait juga selalu sama dan setiap saat. Yang artinya, setiap saat terjadi kenaikan harga komoditi pangan kita, terutama beras, maka yang akan dilakukan adalah dengan menggelar Operasi Pasar(OP)," kata Mei.

Mei menjelaskan, jika dikaitkan dengan teori ekonomi, antara supply dan demand, jika permintaan tinggi maka harga akan naik. Kalau untuk kenaikan harga beras di Jatim yang tinggi sekarang ini, mulai dirasakan dari bulan Oktober-November 2017. Terkait kondisi ini, Mei mengatakan, karena di masyarakat kita akan menghadapi perayaan Natal dan tahun baru. "Jika mengikuti teori normal ekonomi, maka begitu lepas dari tahun baru maka harga akan bisa kembali normal, karena kebutuhan dari masyarakat kembali normal lagi. Tetapi, faktanya tidak untuk saat ini," kata Meithiana Indrasari.

Mei menegaskan, seharusnya kalau misalnya dinas-dinas terkait baik dari mulai pertanian, ketahanan pangan, perdagangan dan perindustrian semuanya bersinergi, sebetulnya bahkan event-event khusus pun semuanya masih bisa terpantau, tidak perlu naik. "Kenaikan ini sepanjang masa," kata Mei.

Sementara, terkait kondisi yang selalu berulang seperti ini, ada opini yang berkembang dipublik, bukan saja kebutuhan masyarakat yang meningkat di event-event tertentu saja, melainkan ada pihak-pihak tertentu yang bermain di dalamnya. Mengomentari hal ini, Mei mengatakan, tidak mengiyakan, hanya saja perlu mengkritisi. "Kalau semua mengatakan, bahwa stok pangan nasional aman. Tetapi, seminggu lalu Wapres Yusuf Kalla mengatakan, jika harga beras tembus sampai Rp 12.000 maka opsi yang diambil adalah impor beras," kata Mei.

Ia mengatakan, begitu mudahnya memberikan statemen impor beras. Padahal, kata Mei, kebijakan untuk impor beras itu, menurut hemat para ekonom sebetulnya kurang bijak. "Karena di negara ini, masih banyak para petani dan pengusaha-pengusaha untuk komoditi pangan," kata Mei. Saat impor beras nanti dilakukan, maka disaat yang sama petani sedang memasuki masa panen. Sehingga, kata Mei, banyak diantara para petani kita mengeluhkan beras mereka tidak akan terserap secara maksimal. (NL)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags