• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

IMPOR GARAM INDUSTRI MEMBUAT KECEWA APGRI

February 5, 2018

Sby, MercuryFM - Pada tahun 2018 ini keputusan Pemerintah untuk mengimpor garam industri sebanyak 3,7 juta ton, sangat membuat kecewa  Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI). Karena dengan keputusan impor  akan semakin menyengsarakan petani garam. Kebijakan tersebut jelas akan memberikan dampak tidak baik terhadap nasib para petani garam, sebab produksi para petani disinyalir tidak akan terserap industri jika kebijakan terealisasi. 

 

"Jenis garam itu ada tiga, masing-masing garam konsumsi, garam industri CAP dan garam industri Non CAP," kata Sekjen APGRI Faishal Baidlowi, Senin (5/2/2018).


Faishal menjelaskan kalau garam konsumsi sudah bisa dipenuhi (produksi) dalam negeri, kalau garam industri CAP selama ini jelas kita memang belum bisa (penuhi melalui produksi). "Tapi kenapa dengan garam industri non CAP juga diklaim belum bisa terpenuhi, padahal sebenarnya kita sudah bisa memenuhi dengan produksi dalam negeri," tegasnya.

Selain itu, pihaknya menilai selama ini produksi garam sudah cukup memenuhi kebutuhan beberapa sektor industri. Seperti industri aneka pangan, pengasinan ikan, penyamakan kulit, pengeboran minyak, industri es, diterjen dan lainnya. "Sebenarnya garam lokal masih sangat mencukupi untuk kebutuhan nasional, dan hanya industri PAP yang belum bisa kita penuhi," jelasnya.

Membuka keran impor garam industri untuk aneka pangan, pengasin ikan dan lainnya semestinya bisa dipenuhi melalui produksi garam rakyat. "Dalam persoalan ini kami menilai ada upaya penggiringan opini bahwa semua industri tidak bisa dipenuhi dalam negeri, padahal hanya industri CAP yang belum bisa kita penuhi," paparnya.

 

Hal itu jelas akan memunculkan polemik yang nantinya akan pelik, sebab berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) kebutuhan impor garam mencapai 3,7 juta ton yang direncanakan diimpor dari Australia dan India. "Dalam hal ini pemerintah justru terjebak pada opini yang tidak jelas, mereka menggap garam lokal tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional. Padahal sebenarnya kondisinya tidak seperti itu," tegasnya.

berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi garam rakyat pada 2015 sebanyak 2,9 juta ton. Jumlah tersebut terjadi surplus sehingga tidak habis diserap pada 2015-2016 setelah panen garam hanya 114 ribu ton akibat gagal panen pada 2016.

Namun produksi garam rakyat terjadi pada semester II 2015 dan semester I 2016, sehingga adanya surplus ditambah dengan produksi 144 ribu ton mengakibatkan garam hanya cukup sampai Januari 2017. Hal itu mengakibatkan kekurangan garam pada 2017 setelah gagal panen pada 2016 lalu.

Sementara produksi garam rakyat pada 2017 mencapai sekitar 1,4 juta ton dari jumlah kebutuhan sebanyak 1,8 juta ton atau mencapai kekurangan pasokan hingga 400 ribu ton, ironisnya pemerintah justru melakukan impor garam hingga mencapai angka 3,7 juta ton. Padahal rata-rata normal panen garam rakyat sekitar 2 juta ton setiap tahun dan seluruhnya terserap.(Dani)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive