AGAR SUNGAI BEBAS SAMPAH POPOK, PEMERINTAH DIMINTA LEBIH TEGAS

February 14, 2018

Sby, MercuryFM - Hari Selasa (13/02/2018) penggiat lingkungan Surabaya yang tergabung dalam lembaga Ecoton melakukan aksi didepan Grahadi. Kampanye itu menggugat pemerintah karena dinilai kurang perhatian soal sampah popok di sungai Jawa Timur. Ketua Lembaga Ecoton-Prigi Arisandi kepada 96FM Mercury menjelaskan, popok bayi yang dibuang bisa mencapai 3 juta perhari. Prigi menyebut saat ini ibu-ibu yang mempunyai bayi masih percaya mitos kalau membuang popok ditempat sampah popok akan dibakar, hal ini menurut mereka bayi mereka akan mengalami ruam pada kulitnya. Ini menjadi salah satu alasan mereka membuang popok disungai. Padahal jelas Prigi, saat ini produk popok di indonesia memiliki kualitas lebih buruk dibanding produk popok di Thailand, Malaysia dan Singapura. Di Indonesia bahan baku popok 55% adalah plastik sisanya senyawa kimia pengganggu hormon dan pulp paper. Popok di indonesia sudah ketinggalan jaman karena menggunakan teknologi tidak ramah lingkungan sehingga sampahnya sulit untuk didaur ulang.

Prigi mengaku sudah melakukan sosialisasi agar ibu-ibu yang mempunyai bayi tidak lagi membuang sampah popok ke sungai. Ecoton kini mulai mengenalkan DROPPO atau droping point popok. DROPPO ini adalah tempat penampungan popok sementara yang diintegrasikan dengan Bank Sampah.  Prigi menjelaskan DROPPO ditempatkan di pemukiman padat di tepi sungai, sarana perahu penyeberangan dan jem atan penyebrangan. Lokasi ini dipilih karena selama ini pembuang popok sering membuang popok di jembatan. Prigi menyebut didesa Sumengko, Gresik yang menginisiasi DROPPO, ada sekitar 20 ibu yang tidak membuang sampah popoknya disungai. "Mereka mengumpulkan di DROPPO dan hasilnya dalam tiga minggu terkumpul sampah popok sekitar satu ton" kata Prigi. Didesa lain sekitar sungai Brantas, kata Prigi  juga mulai dikenalkan droping point popok tersebut. 

 

Ecoton sebut Prigi, lebih mendorong penyelesaian problem popok di hulu masalah yaitu melibatkan produsen dalam penanganan sampah popok dan design produk.
Ecoton juga mendorong Pemerintah agar segera menerapkan prinsip EPR (extended producer responsibility)  yaitu mengintegrasikan biaya penanganan sampah popok kedalam biaya produksi. Prigi mengajak agar pemerintah serius memperhatikan kebersihan sungai, karena dampak dari kerusakan lingungan akan dirasakan bagi generasi yang akan datang. Kegiatan kemarin dilakukan agar Gubenur Jatim Pro-Revolusi popok. Gubernur diminta berani memberlakukan EPR bagi produsen popok di Jatim,  mempromosikan pemakaian popok kain dan mendorong produsen mendesign dan produksi popok ramah lingkungan.  Gubernur harus mau membersihkan kali brantas bebas popok. " Revolusi popok ini mendesak dilakukan karena berkaitan dengan penggunaan air bersih yang berasal dari kali Surabaya dan kali Brantas" tutupnya. (nt)


 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive