STABILITAS POLITIK JATIM "DIGODA" ORANG GILA

March 3, 2018

 

Sby, MercuryFM - Maraknya peristiwa penyerangan ulama dan perusakan tempat ibadah di Jawa Timur oleh terduga orang gila cukup mengkhawatirkan. Pihak kepolisian pun diminta hati-hati dalam menangani kasus itu, dengan tidak asal mengatakan orang gila. Pasalnya, yang mempunyai otoritas tersebut adalah psikiatri.
Hal itu disampaikan guru besar di bidang Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) Prof Kacung Marijan saat ditemui di Surabaya Kamis (22/2).

Menurutnya, peristiwa tersebut memang mengkhawatirkan.

“Ini harus ada pemetaan yang jelas. Siapa sebetulnya yang terlibat dalam penyerangan, apakah betul meraka orang gila,” katanya.

Pria yang juga sebagai Wakil Rektor I Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) itu menambahkan kalau memang betul orang gila itu seperti apa. Dan kalau tidak seperti apa. Kacung menilai bahwa pihak kepolisian terlalu cepat menyebutkan pelakunya adalah orang gila.

“Jangan belum-belum sudah mengatakan orang gila. Publik sekarang ini kan kritis, orang gila kok yang menentukan polisi. Polisi kan tidak punya kompetensi menentukan itu orang gila apa tidak,” ujarnya.

Harusnya, lanjut Kacung, yang mempunyai otoritas adalah psikiatri. “Makanya sekarang mulai hati-hati, kan (polisi, red),” imbuhnya.
Selain itu, Kacung melanjutkan, jika memang pelaku adalah orang gila juga perlu diselidiki lebih dalam. Apakah kemauan orang gila sendiri atau ada yang menyuruh.

“Kan, ada orang gila yang bisa disuruh juga. Kasus di Ploso, Kediri itu kalau tidak asalnya bukan dari situ. Masak orang gila dari Situbondo terus tiba-tiba ke Ploso,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Kacung meminta kepada pihak kepolisian untuk melakukan investigasi terkait pola penyerangannya seperti apa.

“Mereka gila itu datang kesitu atas kemauan diri sendiri atau ada yang menyuruh. Kalau ada ini siapa. Ini tugas polisi,” pungkas pria berkumis tipis ini.
Sementara, pengamat politik dari Unair,

Airlangga Pribadi Kusuma menilai fenomena teror yang belakangan ini terjadi di Jatim jelas ingin membuat masyarakat resah dan saling curiga. Pasalnya, kejadian tersebut berlangsung terpola dan bukan suatu peristiwa yang acak.

“Ini merupakan fenomena yang sudah tersetting dan dilakukan oleh orang-orang terlatih,” katanya.

Doktor Ilmu Politik lulusan Murdoch University, Australia ini bahkan mengatakan bahwa targetnya adalah untuk mendorong pada instabilitas politik dan mengganggu wibawa Negara.

“Polisi harus sigap dalam merespon dan bertindak membongkar pola-pola sabotase dan provokasi sosial yang berpotensi mendorong instabilitas. Mengingat bahwa hampir mustahil ini adalah peristiwa acak yang tidak memiliki motif dan tendensi politik,” tandasnya. (alam)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group