• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

ZA, PERAWAT RS NASIONAL HOSPITAL SURABAYA AJUKAN PRAPERADILAN

March 6, 2018

 

Sby,MercuryFM - Sebelumnya sempat viral di media sosial kalau seorang perawat di RS Nasional Hospital Surabaya, Zunaidi Abdillah(ZA) meminta maat atas tindakan asusila yang sudah dilakukannya kepada seorang pasien di rumah sakit itu. Dalam perkembangannya, melalui pengacara ZA, yaitu, M.Sholeh menyatakan, hari Selasa(06/03/18) ini dari pihak kepolisian melimpahkan kliennya, ZA ke Kejaksaan, karena sudah P21. Pelimpahan ini menjadi pelimpahan tahap dua, karena dilimpahkan juga berkas bersama tersangkanya. "Pada tahap ini, kewenangan penyidikan, penuntutan sudah beralih dari kepolisian kepada Jaksa. Sehingga, sudah tidak ada lagi kaitannya dengan pihak Polrestabes Surabaya," terang Sholeh.

Menurut Sholeh, hari Selasa(06/03/18) ini pihaknya akan mengajukan gugatan praperadilan ke PN Surabaya terhadap Kapolrestabes Surabaya. Mereka, kata Sholeh melakukan ini, terkait proses penetapan sebagai tersangka yang penuh kejanggalan. Lebih lanjut, Sholeh mengatakan, yang melatar belakangi pihaknya mengajukan praperadilan atas kasus ini adalah, setelah mendengarkan kronologi kasus ini dari klien dan juga istrinya. Pihaknya, kata Sholeh, kemudian mempersoalkan penetapan ZA sebagai tersangka. "Yang pada bulan Februari viral di Medsos, media cetak dan elektronik, terkait pengakuannya yang telah melakukan tindakan asusila terhadap seseorang pasien. Dimana saat itu, sang pasien ada dalam kondisi tidak sadar, atau tidak berdaya," terang pengacara ZA ini.

Awal dari perkara ini terang M. Sholeh muncul pada tanggal 23 Januari 2018, antara pukul 11.30-12.00 wib, dimana saat itu pasien selesai melakukan operasi. Kemudian, pada saat berada di ruang perawatan itulah, pasien mengaku, kalau ZA melakukan tindakan asusila, dengan meraba dan memainkan bagian payudaranya. "Tetapi yang muncul dari video yang beredar viral itu, adalah dampratan si pasien kepada ZA sambil menangis. Kemudian ZA meminta maaf dan mengaku khilaf. Hal inilah yang kemudian menjadi pertanyaan saya selaku pengacara ZA," terang M.Sholeh. Sholeh mempertanyakan, apakah ada seseorang yang tiba-tiba didamprat, langsung mengakui sebuah kesalahan, padahal tidak ada saksi. Tetapi, Sholeh menyatakan, setelah mendengarkan kronologis yang sesungguhnya, sehingga perlu dicari dan digali kebenarannya. "Apakah anak itu salah, ataukah dalam kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan, sehingga dia   mengakui kekhilafan," kata pengacara ZA ini.  

Sebab, kliennya terang Sholeh, menyatakan kalau pada sebelumnya dia dipanggil oleh seniornya di rumah sakit itu, yang menyampaikan jika ada pasien yeng mengajukan komplein atas dirinya. Supaya tidak berkepanjangan, dan demi nama baik rumah sakit, suster senior itu pun menyarankan ZA untuk mengakui dan meminta maaf. Karena tidak akan ada tindakan apa pun kepadanya, dan kasus komplein dari pasien ini akan selesai. "Karena disarankan seperti itu, ZA pun mengikuti," kata Sholeh. Ini semua, menurut Sholeh, kliennya mengaku melakukan semua itu, agar kasusnya cepat selesai dan menjaga nama baik rumah sakit. "Tujuannya, adalah menyelesaikan masalah tidak berkepanjangan, meskipun kliennya mengaku tidak melakukan," tegas Sholeh. Semua itu, kata Sholeh dilakukan ZA atas saran dari management Rumah Sakit. (
Nl)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive