KORBAN BIDIK PT SIPOA LAKUKAN MONEY LOUNDRY

March 10, 2018

 

Sby,MercuryFM - Ratusan korban apartement dan perumahan bodong PT Sipoa Legacy Land yang tergabung dalam Paguyuban Customer Sipoa (PCS), melaporkan cek kosong serta dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) ke Polda Jatim, Sabtu (10/3/2018).

Korban didampingi Kuasa hukum dari kantor hukum Masbuhin and Partners.

“Bahwa terdapat 251 klien kami yang menjadi korban dugaan tindak pidana penipuan atau penggelapan dan TPPU yang diduga dilakukan oleh PT Sipoa Legacy Land, setelah membeli apartement bodong” tutur Masbuhin.

PT Sipoa Legacy Land terindikasi menjerat korban melalui 11 perusahaan-perusahaan cabang penjual property. Sejumlah 18 proyek properti diperjual belikan dengan mempergunakan 14 rekening bank berbeda-beda. Kerugian disinyalir mencapai Rp 28 miliar.

“Sampai saat ini klien kami belum ada yang menerima penyerahan property dari masing-masing perusahaan tersebut, bahkan terdapat dugaan uang-uang yang telah diterima dari client kami tidak dipergunakan seluruhnya untuk kepentingan pembangunan property, akan tetapi untuk kepentingan lain,” tambah Masbuhin.

Upaya pelaporan pidana TPPU ini dengan target korban bisa kembali memperoleh uangnya.

"Uang dari para pembeli apartement itu tidak mungkin tidak terwujud. Pasti ada tapi bentuknya terintegerasi koorporasi lain utk bisnis lain atau jg layering. Makanya kami ingin polisi untuk ungkap, tangkap dan sita. Dengan begitu bisa dilakukan pengembalian uang. Hanya cara ini yang bisa dilakukan utk pengembalian uang" kata Masbuhin.

Hanya TPPU yng bisa mengungkap aset yang samar

Sedangkan kalau dilaporkan dengan tuduhan pencurian dan penggelapan, hanya untuk penjeraan saja.

"Kalau sudah dihukum penjara, ya sudah selesai tidak ada kewajiban lagi mengembalikan uang" tegas Masbuhin lagi.

Sementara itu, menurut salah satu korban  Sipoa, Ari Listiningtias Widiastusi, properti yang dijanjikan sampai detik ini merupakan tanah konservasi, tanah kosong dan tanah sengketa.

Dia juga menyampaikan, sudah menerima cek senilai Rp 54 juta sebagai kompensasi, tetapi ceknya itu kosong atau tidak bisa dicairkan.

"Ceknya itu dikeluarkan tanggal 9 Februari 2018, dan tanggal 12 Februari dijanjikan akan cair. Tapi pada kenyataannya, ceknya itu kosong," ucap Ari.

Ari berharap bahwa pemerintah juga ikut turun dalam masalah ini. Menteri Keuangan, Menteri Perumahan Rakyat, dan KPK juga ikut mengecek semua masalah ini.

"Saya mohon kepada KPK untuk mencari data tentang masalah ini, karena proyek pembangunan properti ini juga tertera nama bapak Bupati Sidoarjo, itu yang meyakinkan saya untuk membeli perumahan itu," tegas Ari.

PT Sipoa Grup merupakan pengembang properti Royal Afatar World (RAW) dan Royal Mutiara Residence (RMR), yang berkantor di Jalan Wisata Menanggal Waru Sidoarjo Jawa Timur.

Proyek pembangunan apartemen dan perumahan tersebut dimulai pada tahun 2014, namun hingga kini masih belum ada proses pembangunan dilokasi proyek tersebut.

Pada promosi properti itu memasang gambar Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Sehingga masyarakat menduga, ada kerjasama antara pengembang dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.(Alam)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group