ADA YANG BERMAIN, SEHINGGA HARGA GARAM LOKAL MENJADI MAHAL


Sby, MercuryFM - Langkah pemerintah yang melakukan impor garam dengan alasan harga garam lokal terlalu mahal untuk industri, mulai dipertanyakan.

Harga garam di pasaran nampaknya ada keanehan dalam hitung-hitungan sebelum dijual di level retail. Mengingat selisih harga yang dijual lumayan tinggi yakni Rp 1.000 perkilogramnya.

Ahli Ekonomi, Rizal Ramli mengatakan, jika dibedah dengan teliti dengan melihat angka-angkanya, sebenarnya tidak terlalu sulit.

Harga garam rakyat mentah di petani antara Rp 550- 650 perkilogramnya. Harga tersebut ditambah biaya proses menjadi garam siap konsumsi sebesar Rp 600 sehingga menjadi Rp 1.200 perkilogramnya. Garam jadi selanjutnya dijual dengan untung 20 persen menjadi Rp 1.500 perkilo.

Sementara harga garam mentah impor Rp 600 perkilo. Selanjutnya diproses dengan biaya Rp 600 sehingga menjadi Rp 1.200 perkilo.

“Jika dibandingkan dengan harga mentah antara garam rakyat dengan impor tidak jauh-jauh amat, cuma selisihnya Rp 50 perkilo. Artinya tidak benar kalau garam lokal mahal,” ujar Rizal Ramli, di Surabaya, Rabu (28/3/2018).

Mantan Menko Perekonomian itu menilai yang menjadi masalah adalah harga garam di level ritail menjadi Rp 2.500, sehingga diduga ada permainan kartel karena selisihnya Rp 1000 dari harga garam jadi yakni Rp 1.500.

“Harga garam rakyat ditambah prosesing ditambah margin menjadi Rp 1.500.Kok bisa selisihnya Rp 1.000. Siapa yang dapat ini. Jadi marginnya terlalu tinggi,” terangnya.

Untuk melindungi petani garam, Rizal juga mengusulkan agar pemerintah mengenakan pajak tambahan 20 persen untuk garam impor.

"Ok lah kebijakan ini ditolak Australia sebagai negara pengimpor garam. Namun kita harus tegas. Ingat kita negara besar, kita berhak melindungi rakyat kita,” pungkasnya.(ari)


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
No tags yet.
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group