GARAM UNTUK INDUSTRI FARMASI MASIH TERGANTUNG IMPORT

April 18, 2018

 

Sby, MercuryFM - Rendahnya kualitas garam petani dalam negeri menjadi kendala bagi industri farmasi untuk bisa menyerapnya sebagai bahan baku obat. Dampaknya, ketergantungan industri ini terhadap garam impor sangat besar.

 

"Kadar NACL garam rakyat sebelum dilakukan pemurnian hanya mencapai 88 persen hingga 94 persen, sementara garam yang dibutuhkan sebagai bahan baku obat itu kadar NACLnya mencapai sekitar 99,8 persen, lebih tinggi dari garam untuk industri yang mencapai 97 persen," kata General Manager SBU Manufactur PT Kimia Farma Hadi Kardoko, di Surabaya, Rabu (18/4/2018).

 

Padahal dari data yang ada, kebutuhan garam industri farmasi ini terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2017, kebutuhan garam industri farmasi di Indonesia yang harus dipenuhi dari impor mencapai 4.214 ton per tahun. Di tahun ini, kebutuhannya diprediksi naik menjadi 6.846 ton.

 

“Impor tersebut sebagian besar dipenuhi dari China, Malaysia dan India. Ke tiga neraga itu memang menjadi negara paling tinggi kinerja industri farmasinya. Sementara Indonesia, masih diurutan ke36,” tambahnya.

 

Perkembangan industri farmasi di China dan India yang sangat tinggi itu menurutnya disebabkan besarnya dukungan pemerintah untuk kenaikan kinerja industri tersebut. Beberapa kebijakan yang dinilai bisa memacu kinerjanya diantaranya adalah pemberlakuan pajak intensif, pembebasan pajak hingga pengurangan pajak dan pembebasan bea masuk impor bahan baku obat yang dibutuhkan.  

 

“Sementara di Indonesia, dukungan pemerintah masih belum maksimal, tidak ada yang namanya keringanan pajak dan pembebasan pajak dalam industri ini,” tambahnya.

 

Selain belum maksimalnya dukungan pemerintah, tantangan yang harus dihadapi oleh industri ini diantaranya adalah belum adanya jaminan sumber atau pasokan bahan baku. Selain itu, industri hulu farmasi juga masih belum berkembang dan kualitas garam dalam negeri masih belum bisa memenuhi standar.

 

“ Karena untuk meningkatkan standar garam rakyat itu membutuhkan sejumlah langkah yang panjang. Ladang garam harus dibbenahi, pengairan harus dibenahi, pengeringan harus dibenahi, handling pasca panen dan penyimpanan juga harus dibetulkan. Tidak bisa langsung berubah. Oleh karena itu, ketika mereka harus impor jangan dipolitisasi sebab mereka butuh bahan baku yang berkesinambungan,” pungkas Deputi Bidang Sumberdaya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman, Agung Kuswandono.(Dani)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group