PERIKANAN KELAUTAN BERKONTRIBUSI POSITIF PDRB JATIM

May 5, 2018

 

SURABAYA, MercuryFM -Produktivitas sektor perikanan di Jawa Timur terus meningkat, hingga mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi PDRB Jatim. 


Karena itu, Pemprov Jatim terus mengembangkan sektor ini mulai hulu hingga hilir agar hasilnya lebih optimal, dan memberikan dampak positif bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Gubernur Jatim,Soekarwo mengatakan produksi perikanan pada tahun 2017 mencapai sekitar 1,6 juta ton, terdiri dari produksi perikanan budidaya sebesar 1.189.494 ton, dan produksi perikanan tangkap sebesar 427.459 ton. "Perkembangan produktivitas sektor ini luar biasa, sebab pada tahun 2012 produktivitasnya masih di angka 800 ribu ton,” kata Pakde Karwo, sapaan akrab Soekarwo, Sabtu (5/5/2018).

Produktivitas ini, lanjut Pakde Karwo, berdampak positif pada kontribusi sektor perikanan dan kelautan terhadap PDRB Jatim, yakni sebesar Rp50,99 triliun atau 2,53% dari total PDRB Jatim yang sebesar Rp 2.019,2 triliun pada tahun 2017. 

Sedangkan capaian ekspor hasil perikanan tahun 2017 sebesar 198.866,761 ton dengan nilai sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar Rp16 triliun.

Agar produktivitas sektor ini terus meningkat, imbuh Gubernur kelahiran Madiun ini, Pemprov Jatim menerapkan konsep asli Jatim, pengembangan hulu hingga hilir perikanan, dengan memberikan nilai tambah komoditi perikanan masyarakat melalui industrialisasi di petani.

Untuk itu, Pemprov melalukan peningkatan mulai Sumber Daya Manusia (SDM), akses permodalan, teknik pengolahan, hingga strategi penjualan produk perikanan.

Untuk SDM, Pakde Karwo minta praktek satu hari melaut atau one day fishing yang dilakukan nelayan dapat ditinggalkan, diharapkan nelayan bisa 2-3 hari untuk menangkap ikan.

"Jika 2-3 hari, tentu hasil tangkapan lebih banyak. Jadi perahunya ditingkatkan kapasitasnya agar muat ikan lebih banyak, dulu muatan 5 gross ton (GT), sekarang bisa 10-20 GT," katanya.

Kemudian setelah berlabuh, nelayan diharapkan tidak langsung menjual ikan hasil tangkapannya, tapi diolah terlebih dahulu menjadi produk industri primer, atau sekunder. Contohnya, diolah jadi abon, krispi, nugget, bakso ikan, dan sebagainya, sehingga memiliki nilai tambah, dan sekaligus diversifikasi produk perikanan. 

"Kami memberi pelatihan maupun keterampilan pada nelayan agar mampu mengolah hasil tangkapannya, kemudian untuk modalnya, kita berikan akses permodalan kepada nelayan dengan suku bunga yang ringan, hanya 6%. Jauh lebih ringan dari produk industri jasa keuangan di perbankan pada umumnya" pungkasnya. (Dani)

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive