PETERNAK UNGGAS AKUI SUSAH MENDAPATKAN BIBIT


Jkt, MercuryFM - Para peternak unggas mandiri yang tergabung dalam Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) berteriak. Pasalnya, sejak tiga bulan terakhir mereka kesulitan memperoleh bibit ayam potong atau day old chick (DOC).

Padahal, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 32 tahun 2017 tentang Penyediaan,Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Regulasi tersebut sebagai penyempurnaan dari Permentan 61 tahun 2016 dan Permentan 26 tahu 2016 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras.

Ketua Umum GOPAN Herry Darmawan menilai secara substansi Permentan ini memiliki semangat mendorong tata niaga perdagangan perunggasan yang fair. Namun, sayangnya dalam implementasinya sejumlah hal yang termaktub dalam Permentan 32 tahun 2017 belum berjalan efektif. Salah satunya terkait distribusi DOC yang dinilai belum sesuai keinginan dalam Permentan 32 tahun 2017.

”Seperti pada pasal 19, seharusnya pembagian DOC antara peternak mandiri dan integrator 50: 50 .Tetapi kenyataannya , banyak peternak mandiri yang tidak kebagian DOC. Pada praktiknya peternak unggas mandiri hanya memperoleh 20 persen. Justru sebagian besar atau 80 persen bibit DOC disalurkan ke perusahaan sendiri dan peternak plasmanya," ukata Ketua Umum GOPAN Herry Demawan, Sabtu (5/5/2018).

Menurut Herry peternak unggas mandiri yang notebene bukan terafiliasi dengan perusahaan ternak terintegrasi ini kesulitan melakukan analisa bisnisnya secara sehat dan berkesinambungan. Hal ini disebabkan harga ayam potong sudah ditetapkan Kementerian Perdagangan.

Melalui Permendag 27 tahun 2017 untuk bibit dijual sebesar Rp 4.800 per ekor. Namun faktanya, peternak memperoleh bibit seharga Rp 5.800 per ekor. Bahkan apabila menembus ditingkat agen , peternak harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 6.500 per ekor.

Begitupula halnya dengan pakan yang mengalami kenaikan Rp 150-200 per kilogram (kg).Alhasil, peternak harus membelinya hingga Rp 7.000 per kg. Peternak juga harus mengeluarkan tambahan biaya pakan sebesar 10% sebagai konsekuensi tidak lagi penggunaan Antibiotic Growth Promotor (AGP) yang menyebabkan perlambatan panen selama tiga hari.

Melalui Permendag tersebut, sambung Herry, pemerintah menetapkan harga acuan harga ayam hidup di kandang sebesar Rp 18.500 per kg dengan plus minus 10 %. Apabila peternak menjualnya diatas acuan pemerintah dapat menjadi sasaran penyidikan Satgas Pangan.Namun apabila dipaksakan, maka peternak unggas mandiri akan mengalami kerugian.

Ketua Harian GOPAN Sigit Prabowo menyesalkan masih adanya celah ketidakadilan dalam tata niaga ayam ras nasional di Tanah Air. Justru kesulitan yang dialami para peternak kecil ini sudah menjadi siklus tahunan menjelang bulan Ramadhan yang pada waktu ini kebutuhan ayam potong meningkat. Namun pada saat bersaamaan, moment tersebut justru dimanfaatkan para perusahaan integrator untuk meraup keuntungan maksimal.

“Kita bertanding dengan industri ya kita kalah. Karena industri dengan menaikkan DOC saja, sudah ada profit. Belum dihitung bagi mereka masuk di budidaya dan pakan. Sementara peternak unggas mandiri belum tentu untung,” terangnya.

Menurut Sigit adanya kenaikan sejumlah komponen input tadi otomatis biaya pokok produksi peternak juga merangkak naik. Hitunganya, harga ayam hidup dipeternak akan mencapai Rp 23.000 per kg. "Apabila hal itu dilakukan maka kita akan disemprit Satgas Pangan. Ini tidak boleh," pungkasnya.(Dani)


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
No tags yet.
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group