• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Bersertifikat internasioanl, beras organik Bondowoso siap diekspor ke Belgia dan Hungaria

August 24, 2018

 

Bondowoso, MercuryFm - Beras organik Botanik dari Bondowoso siap untuk menembus pasar ekspor. Hal itu dilakukan setelah beras produksi Gapoktan Al Barokah dari Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari itu mendapatkan sertifikat internasional yang kualitasnya bisa sejajar dengan beras-beras dari negara lain. 

 

Sertifikasi itu berasal dari Control Union pada Maret 2018 lalu. Untuk menuju pasar internasional itu, Gapoktan Al Barokah sudah mengirimkan contoh produk ke Hongaria dan Belgia. Diprediksi akhir tahun ini ekspor ini sudah bisa dilakukan. Minimal 25 ton untuk sekali ekspor.

 

Pendamping pertanian organik, Prof Indar Prihatini mengatakan untuk menuju pasar internasional memang banyak hal yang perlu dipenuhi. Salah satunya adalah sumber air. 

 

Indar menyontohkan pasar Jepang saja tidak akan mau menerima beras organik dari satu negara jika tidak dihasilkan daerah yang menjadi pusat sumber air. "Desa Lombok Kulon Kecamatan Wonosari kabupaten Bondowoso ini sudah punya modal karena berada di daerah pusat sumber air," tandas Indar. 

 

Namun itu saja tidak cukup. Indar mengatakan laham tersebut harus disertifikasi internasional. Dengan sertifikasi itu, nantinya apapun yang dihasilkan di atas lahan itu bisa diklaim sebagai hasil pertanian organik.

 

Saat ini lahan di Kabupaten Bondowoso itu baru 20 hektar yang lolos sertifikasi internasional dari 160 hektar lahan pertanian organik ini. Sehingga produk yang bisa diekspor hanya dari lahan yang sudah disertifikasi ini.

 

 

"Tapi lagi-lagi pasar internasional itu detil. Walau lahan sudah disertifikasi tapi ada hal lain yang dinilai. Ada residunya, hingga sumber daya manusianya. Diperiksa hingga ke rumah tangga petani itu sendiri. Di rumahnya diperiksa apa masih ada pupuk kimia atau tidak. Kalau masih ditemukan kimia maka jangan berharap bisa lolos sertifikasi internasional," jelasnya. 

 

Karenanya sebelum mendapatkan sertifikasi  internasional ini harus terlebih dulu mendapatkan sertifikasi nasional atau SNI. Untuk bisa mendapatkan SNI ini harus terlebih dulu menanam pertanian organik selama setahun. Sementara untuk mengajukan sertifikasi internasional harus menanam organik minimal tiga tahun. 

 

Disisi lain ketua Gapoktan Barokah, Mulyono mengungkapkan untuk saat ini produksi pertanian organik dari 400 petani di desa ini mencapai tujuh hingga delapan ton per hektar. Pendapatan petani juga meningk at tajam. Jika sebelumnya pendapatan petani Rp 26 juta per hektar kini mencapai Rp 38 juta per hektar. 

 

"Kita juga akan mulai mengirimkan banyak produk ke Kalimantan dan Sulawesi. Perdagangan antar pulau," tandasnya. 

 

Gapoktam Al Barokah ini merupakan binaan Bank Indonesia kantor wilayah jawa Timur. Kepala Grup BI Jatim, Harmanta mengatakan BI mendukung semua kegiatan pertanian. Sehingga bisa dihasilkan swasembada pangan di Jawa Timur. 

 

"Selain itu kita dorong petani tidak hanya bisa menjual gabah tapi bisa mengolahnya sendiri menjadu beras," tukasnya. 

 

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso, Munandar mengungkapkan pemkab berusaha untuk membantu semampunya. "Kita sudah anggarkan APBD Rp 2 miliar di Gapoktan ini. Tapi karena kemampuan pemerintah terbatas ya kami dorong Gapoktan ini untuk mendiri," pungkas Munandar.(Dani)

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive