• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Wisata Kampung Kopi Bondowoso, diharapkan mampu pacu kreatifitas anak muda daerah

August 25, 2018

 

 

 

 

BONDOWOSO, MercuryFM - Sukses mengembangkan desa padi organik di Desa Lombok Kulon, kini pemerintah Kabupaten Bondowoso juga fokus mengembangkan wisata kampung kopi. Langkah ini diyakini mampu mendongkrak ekonomi masyarakat setempat dan juga memacu kreatifitas anak muda Bondowoso.

 

 

Bupati Bondowoso Amin Said Husni mengatakan bahwa keberadaan tanaman kopi di wilayah Bondowoso sudah sangat lama dan terus berkembang. Karena pengembangan tidak bisa dilakukan di seluruh wilayah Bondowoso, akhirnya sejak tahun 2011 Pemkab menfokuskan pengambangan kopi Arabika di lereng gunung Ijen yang berada diatas ketinggian seribu kilometer dari permukaan laut.

 

 

Pengembangan klaster kopi di Bondowoso ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman yang dibuat Pemkab Bondowoso bersama tujuh pihak,  Bank Indonesia Jember, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember, Bank Jatim, Perhutani, Asosiasi Pengusaha Kopi Indonesia dan mitra pemasaran eksportir. Agar gaungnya lebih besar, akhirnya pada tahun 2016 Bondowoso dideklarasikan sebagai Republik Kopi dan Bupato Amin Said sebagai presidennya. 

 

 

“Ada desa terpilih untuk mengembangkan kopi dan menjadi Wisata Kampung Kopi. Disana tidak hanya mengembangkan kopi asalan.  Dan sejak ditandatangani kesepakatan tersebut, usaha kopi terus berkembang, terutama dengan adanya pendampingan dari Puslitkoka Jember tentang bagaimana menanam, menjemur hingga processing, hulu hingga hilir,” kata Amin, Sabtu (25/8/2018)

 

 

Wisata Kampung Kopi yang diresmikan pada Desember 2017 ini berada di sepanjang Jalan Pelita, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Kota Bondowoso. Di sana ada berpuluh kafe, baik kecil ataupun besar yang menjual beraneka ragam kopi khas Bondowoso. Menurutnya, kafe-kafe tersebut sebagian besar dikelola anak muda. 

 

 

“Tidak hanya bisa membantu menumbuhkan ekonomi rakyat, ini juga mampu memacu daya imajinasi dan kreatifitas anak muda Bondowoso. Yang awalnya hanya 11 kafe, sekarang sudah berjumlah sekitar 30 kafe,” tambahnya.

 

Selain itu, hutan kopi di lereng ijen juga menjadi percontohan pengembangan kopi yang bisa berdampingan dengan hutan. Penanaman kopi di lahan perhutani terus berkembang dari ratusan hektar menjadi 14 ribu ha lahan milik perhutani yang dikerjasamakan dengan petani. 

 

 

Saat ini, produksi kopi Bondowoso mencapai 3 ribu ton per tahun. Dari total volume tersebut, seribu ton telah diekspor ke berbagai negara lain dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan kopi di Bondowoso dan daerah sekitarnya. 

 

Selain itu, Pemkab Bondowoso juga telah buat Perbup tata niaga tentang perkopian yang menjelaskan tentang bagaimana kopi dikelola hingga pembeli tidak boleh langsung masuk ke kebun dan petani tidak boleh menjual langsung ke pembeli karena akan menurunkan daya jual mereka. Ada BUMD yang menjadi pintu gerbang perantara antara buyer dengan petani. Pemerintah juga memberikan bantuan akses teknologi dan pasar. 

 

 

“Untuk mengembangkan kopi yang berkualitas, petani adalah kuncinya. Untuk itu harus ada kerja keras agar petani menjadi profesional yang tidak hanya mengejar produksi tetapi juga mau berusaha secara maksimal untuk meningkatkan kualitas,” pungkasnya.(Dani)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive