• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Sekolah gratis SMA/SMA Jatim tidak berkeadilan, jika dipilih-pilih

August 31, 2018

 

Sby,MercuryFM - Gubernur Jawa Timur terpilih, Khofifah Indar Parawansa, sebelumnya memastikan bahwa mulai tahun 2019, pendidikan untuk SMA dan SMK di seluruh Jawa Timur, gratis. Ini, seperti diketahui menjadi salah satu janji Khofifah bersama Emil Elestianto Dardak saat kampanye lalu. "Pendidikan gratis dan berkaualitas atau disingkat Tis-Tas, merupakan salah satu Program 9 Nawa Bhakti Satya yang menjadi andalan saya saat kampanye dulu," kata Khofifah. Ketum PP Muslimat NU ini juga memastikan, pendidikan gratis dan berkualitas tidak hanya untuk sekolah negeri, tapi juga swasta.

Terkait pendidikan gratis untuk SMA dan SMK di seluruh Jawa Timur ini, 96FM Mercury coba mengkonfirmasikannya dengan Pengamat Pendidikan Unesa, Prof Suyatno. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah berkeadilan, jika pendidikan gratis ini akan diberlakukan untuk semuanya? menjawab ini, Prof Suyatno menyatakan, yang pertama menyambut baik kebijakan sekolah gratis ini adalah SMA/SMK se-Jawa Timur. "Tetapi perlu diingat, yang namanya sekolah perkembangan anak berbeda-beda. Kemudian perbedaan itu, biasanya disalurkan kepada aneka macam kegiatan. Dan tentunya, kegiatan-kegiatan itu akan berimplikasi kepada dana. Sehingga meskipun sekolah gratis, ada kehendak dari para orang tua dan sekolah yang sudah dikomunikasikan dengan bagus, untuk menambahi dana bermacam kegiatan di sekolah yang bersangkutan. Karena kalau melulu pada pendidikan gratis, meski bagus tetapi biasanya standart minimal," terang Prof Suyatno.

Menurut Prof Suyatno, sekolah-sekolah hebat yang  akan sukses adalah, sekolah-sekolah yang bisa menampung kreatifitas, gagasan, potensi dan bakat anak. Dan ini biasa berkaitan dengan unsur pendukung. "Unsur pendukung ini harus disadari oleh para orang tua dan sekolah, yaitu biaya. Untuk itu, ada sekolah yang punya inisiatif secara transparan mengkomunikasikan ini dengan orang tua, yang akhirnya dicapai kesepakatan yang baik terkait dana untuk kegiatan-kegiatan anak-anak mereka," kata Pengamat Pendidikan Unesa ini. Prof Suyatno mengatakan, yang penting orang tua punya kesadaran bahwa hal-hal itu tanggung-jawab orang tua untuk bagaimana mengembangkan bakat dan minat anak-anak itu.   

Lebih lanjut, prof Suyatno mengatakan, kalau ada yang meminta harusnya sekolah gratis itu hanya diberikan pada sekolah-sekolah tertentu atau dipilih saja, maka ini justru bisa dikatakan tidak berkeadilan. "Pola pilihan seperti itu justru memunculkan ketidak-adilan. Jadi kalau bisa, dana minimal itu untuk semua. Lalu untuk sekolah-sekolah favorit dan sebagainya, kekurangannya bisa dirapatkan dengan para orang tua murid, selama itu masih digunakan untuk kepentingan murid sendiri," terang Prof Suyatno. Ia menambahkan, tetapi tidak bisa mengandalkan pemerintah sepenuhnya, karena biasanya dana itu batas minimal saja, seperti SPP nya saja yang gratis. (Nl)  



 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags