• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

La Nyala sebut ada tiga pelajaran dari kasus Ratna Sarumpaet

October 3, 2018

 

Sby,MercuryFM - Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari kasus Ratna Sarumpaet yang melakukan kebohongan dengan mengaku telah menjadi korban pemukulan sekelompok orang tak dikenal. 

 

Calon anggota DPD RI dari Jatim La Nyala Mataliti mengatakan ada tiga pelajaran penting dari kasus ini. Pertama, bagi kita semua anak bangsa. Kedua, bagi media massa mainstream dan ketiga, bagi tim Prabowo-Sandi. 

 

"Pertama, sebagai anak bangsa harus memilih dan memilah informasi yang kita terima. Apalagi kita sebagai umat muslim sudah punya panduan di Alquran dan hadist. Sehingga kita tidak ikut larut sebagai penyebar hoax dan fitnah,” ujarnya.

 

Dikatakan La Nyalla, bagi umat muslim jelas dalam kitab suci Alquran, surat Al Hujarat ayat 6, sudah jelas menyatakan, ‘Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.’ 

 

"Ini masih didukung dengan beberapa hadist Nabi yang mengajarkan kita untuk tidak begitu saja menyebarkan berita bila tidak ada kebenaran berita tersebut" ungkap pria yang juga ketua MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur. Rabu (03/10/2018) di Surabaya. 

 

Sementara terhadap media mainstream, La Nyalla yang juga tercatat sebagai anggota dewan penasehat PWI Jatim meminta agar media mainstream melakukan re-check ke sumber utama. Bukan menjadikan apa yang diupload di medsos sebagai content berita. Karena masyarakat cenderung percaya kepada apa yang ditulis media mainstream. 

 

“Ini trend yang kurang bagus, apabila media mainstream memberitakan isi medsos, tanpa melakukan re-check ke sumber utama content di medsos tersebut,” urainya.

 

Lalu terhadap tim Prabowo-Sandi, secara singkat La Nyalla hanya mengatakan, Prabowo dan timnya harus melakukan koreksi diri. 

 

“Ya harus koreksilah, ini belum jadi presiden sudah menelan informasi palsu. Bagaimana nanti kalau jadi presiden? Apa mau membuat kebijakan atas dasar informasi yang keliru? Kan fatal,” pungkasnya. (ari) 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive