• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Walikota Surabaya cederai kebebasan Pers, larang Reporter TV lakukan Peliputan acaranya

October 9, 2018

 

Sby,MercuryFM - Kebebasan Pers kembali dinodai oleh Pejabat Pemerintahan. Ini tampak dengan sikap Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang menodai kebebasan pers dengan menghalang halangi kinerja pekerja pers dalam melakukan liputan.

 

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini memerintahkan anak buahnya untuk mengusir reporter JTV Dewi yang biasa bertugas dilingkungan Pemkot Surabaya. Ini dialami Dewi yang akan meliput kedatangan tim kirab nusantara GP Ansor Jawa Timur di rumah dinas Walikota.

 

Reporter JTV, Dewi mengaku mendapat teguran dari Kabag Humas Pemkot Surabaya, M.Fikser saat akan mendekati teras rumah dinas Risma. 

 

"Pak Fikser menegur saya ketika akan masuk rumah dinas Walikota. Dan mengatakan mulai hari ini Mbak Dewi gak usah datang kalo ada acaranya ibu (Tri Rismaharini). Ibu tidak berkenan," ujar Dewi.

 

Saat ditegur seperti itu, Dewi kembali bertanya kepada M.Fikser selaku anak buah Risma, bahwa keinginan Risma bisa disampaikan saja ke kantor redaksi JTV, tapi langsung dijawab sama Fikser, ya nanti kita kirim surat ke kantor Sampean.

 

Kejadian tersebut, ternyata tidak hanya terjadi pada reporter JTV, bahkan selama kepemimpinan Walikota Surabaya Tri Rismaharini sering bersikap semena-mena pada wartawan yang mengkritisi kebijakan pemkot, dikarenakan walikota dua periode itu tidak ingin dikritisi, dia hanya senang jika ditulis yang baik-baik. 

 

"Tak sepantasnya seorang kepala daerah sekelas Risma anti wartawan, apalagi anti kritikan, padahal kritik bagian dari perubahan dalam pembangunan sebuah pemerintahan, dan tidak seharusnya walikota menyuruh anak buahnya melarang wartawan melakukan peliputan,” tegas Dewi.

 

Salah satu wartawan media online, Trishna juga menilai, kejadian yang menimpa wartawan JTV jelas melecehkan profesi jurnalis yang nyata-nyata dilindungi oleh UU Pokok Pers. 

 

"Buat apa jutaan penghargaan yang dilekatkan ditubuh Risma, kalau masih punya mental alergi sama wartawan. Apa kata dunia?" ungkapnya.

 

Perilaku kurang sehat terhadap wartawan ini tidak hanya menimpa Dewi. Salah satu wartawan (tidak mau disebutkan namanya) yang biasa melakukan peliputan di lingkungan Pemkot Surabaya, juga mengalami hal yang sama.

 

Wartawan bertubuh tinggi ini menceritakan, bahwa dirinya pernah ditegur Fikser saat mau meliput berita di ruang kerja Walikota Surabaya. 

 

"Intinya kita tidak boleh meliput berita yang merugikan pemkot," ucap pria berputra satu ini

 

Bahkan menurutnya dirinya pernah ditegur Fikser Kabag Humas karena bertanya diluar konteks yang direncanakan oleh humas dan membuat Walikota tersinggung dengan pertanyaan itu.

 

"Gara-gara kamu rencana yang saya setting bubar, padahal sudah aku setting serapi mungkin," pungkasnya mengutip ucapan Fikser. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive