• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Surabaya masih menarik untuk bisnis property ditengah lesunya ekonomi

October 11, 2018

 

Sby,MercuryFM - Sebagai kota besar nomor dua setelah Jakarta, Surabaya masih menarik untuk pengembangan property ditengah lesunya ekonomi.

Direktur PT Darmo Permai Kevin Sanjoto menyakini kalau penjualan property masih bagus ditengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sedangkan Surabaya dinilai sebagai kota yang sangat menarik untuk lokasi pembangunan kota baru.

"Kami masih punya project kedua disini, yang segmentnya masih sama seperti yang sudah terbangun sebelumnya" kata Kevin saat konferensi pers topping off Tower The Soho dan The Residence oleh Mega Proyek 88 Avenue di Surabaya pada Rabu 10/11/2018.

Sebagai bukti masih menguatnya daya beli masyarakat terhadap property dengan terjual habis unit paling murah di Tower Residence dan Tower Soho yang dikisaran harga Rp 900 jutaan.

"Untuk Tower Soho sudah laku 80 persen sedangkan Tower Residence laku 60 persen. Sekarang tinggal 1000 unit di dua Tower tersebut" ujar Kevin.

Kevin menambahkan nilai investasi untuk pembangunan dua tower itu senilai Rp 1,2 Triliun. The Residence dibangun untuk memenuhi hunian idaman yang memperhatikan kenyamanan hidup moderen dan layout ruang yang stylish. Sementara itu The Soho didesign khusus untuk menjawab kebutuhan trend lifestyle modern terutama di Kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.  

Masih kuatnya daya beli masyarakat terhadap property juga disampaikan Luki Theta H Business Development Director PT Waskita Karya Reality.

"Konsumen yang membeli property dari kelompok menengah kebawah untuk ditinggali terus bergerak" ujarnya dikesempatan yang sama.

Tapi kalau untuk tujuan investasi banyak yang menahan diri.

"Artinya membeli untuk dijual kembali agar dapat keuntungan itu berhenti. Mereka yang belanja untuk investasi kemudian melepas saja sulit" lanjut Luki Theta.

Sedangkan untuk pengembangan bisnis property, Luki menambahkan dikondisi sekarang banyak developer yang menunggu. Mereka lebih memilih mengumpulkan customer dulu. Kalau dirasa prosentase terjual cukup baru mulai bangun. 

"Karena itu mengurangi resiko, sebab kalau pembangunan berhenti itu resikonya kurang bagus" pungkas Luki.(Alam)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags