Langgar Kayu di kampung Bung Karno dimintakan jadi bangunan cagar budaya

October 12, 2018

 

Sby,MercuryFM - Langgar Dhuwur atau langgar kayu menjadi tempat ibadah warga Lawang Seketeng Surabaya.

Langgar yang bernama asli Alawiyah atau Hidayah itu berdiri sejak tahun 1893 di perkampungan jalan Lawang Seketeng Gang VI RW XV Kelurahan Peneleh Surabaya

“Langgar kayu ini berdiri sejak tahun 1893 bulan 1 Masehi sesuai tulisan prasasti yang ada diatas langgar ini,” Ujar Mahmud Wakil Ketua RW XV lawang Seketeng Kelurahan Peneleh Surabaya, kamis, (11/10/2018) Sore.

Ia mengatakan, di dalam langgar banyak ditemukan bukti benda peninggalan bersejarah seperti Al Qur”an bertulisan tangan bersampul kulit berlogo tulisan VOC di setiap lembar kertasnya.

“Selain itu, ada juga benda peninggalan lain seperti Tombok serta lumpang batu pada saat menggali langgar ini,” Katanya.

Selain itu, Ia menjelaskan, bangunan ini seluruhnya terbuat dari kayu tanpa ada perubahan bentuk aslinya alias orisinil. Seperti tempat kutbah imam yang berbentuk menggantung dan bangunannya bersisik.

“Di ruang lantai bawah juga ada benda peninggalan berlogo seperti partau NU yang masih utuh nempel di dinding kayu langgar ini,” lanjut Mahmud.

Ia menambahkan, langgar kayu masih difungsikan warga setempat sebagai tempat ibadah. Apalagi di bulan suci Ramadhan, banyak warga sekitar sini melaksanakan ibadah di langgar ini.

“Sampai sekarang langgar kayu ini masih aktif berfungsi digunakan untuk ibadah sholat dan mengaji baca Al Qur”an,” paparnya.

Warga menganggap langgar kayu punya nilai sejarah. Sehingga pemkot Surabaya diminta supaya memberikan perhatian. Dengan menjadikannya sebagai bangunan cagar budaya.

Gayung bersambut dengan keinginan warga, Lurah Peneleh Surabaya Khusnul Amin sudah menyampaikan saat pertemuan dengan pemkot.  Dia menjelaskan daerah peneleh layak dijadikan kawasan cagar budaya. Seperti yang disampaikan  Tim Cagar Budaya saat berkunjung kawasan ini beberapa waktu lalu.

“Seperti masa kecilnya bapak Ir Soekarno, Cokro Aminoto, Ruslan Abdul Gani dan masa kecil Bung Tomo ada disini. Daerah sini, peninggalannya lengkap, beda dengan daerah lain hanya bangunan rumah lawas,” ungkapnya.

Untuk itu, Pihaknya berharap, agar daerah peneleh dijadikan kawasan wisata cagar budaya atau bersejarah namun selanjutnya hanya tinggal menugggu hasil kunjungan dari tim cagar budaya.

Keingginan warga ini mendapat Anggota Komis A DPRD Kota Surabaya Budi Leksono.

“Dari beberapa masukan warga yang saya terima, langgar kayu ini agar mendapat perhatian dari pemkot surabaya,” kata pria yang akrab disapa Bulek ini saat blusukan ke lokasi.

Caleg PDI Perjuangan untuk DPRD Surabaya ini menambahkan butuh kajian mendalam untuk memastikan kalau langgar kayu layak menjadi bangunan cagar budaya.

“Ini adalah tugas kita semua dalam hal melestarikan,” ujarnya.

Caleg dapil Surabaya 1 dengan nomor urut 2 ini mengakui kalau didaerah banyak sekali peninggalan – peninggalan bersejarah. Seperti kampung Soekarno, ada Mbah Panja dan makam-makam lainnya yang mungkin punya butuh kajian kajian

“Ini sebagai bentuk, bahwa di daerah ini banyak sekali cagar budaya yang memang harus butuh perhatian dari pemkot,” pungkas Bulek. (Alam)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive