• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

DPRD Jatim prihatin kabar mahasiswa magang Indonesia kadi tenaga kerja paksa di Taiwan

January 5, 2019

 

Sby , MercuryFM - Munculnya kabar 300 mahasiswa  magang asal Indonesia menjadi tenaga kerja paksa di Taiwan mengundang perhatian dari DPRD Jatim. Pasalnya, pihak legislative itu merasa kawatir terhadap nasib para mahasiswa tersebut.

 

“Kami kawatir kalau ada mahasiswa disana yang menjadi pekerja paksa berasal dari Jatim. Kami berharap dinas terkait pro aktif dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengecek adakah mahasiswa asal Jatim ikut kerja paksa di Taiwan,”ungkap anggota Komisi E DPRD Jatim Agus Dono Wibawanto di Surabaya, Sabtu, (05/01/19).

 

Menurut politisi asal Partai Demokrat ini mengatakan pihaknya mendukung upaya dari Kemenlu RI untuk menghentikan sementara pengiriman mahasiswa ke Taiwan tersebut sambil menunggu data resmi terkait kabar tersebut.

 

 “Kami minta dan dorong agar Kemenlu RI  protes ke Taiwan atas perlakuannya terhadap mahasiswa magang asal Indonesia. Ini sangat menyinggung perasaan bangsa Indonesia,” jelas pria asal Malang ini.

 

Kata pria yang juga ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Jatim ini menambahkan, ke depan pihaknya berharap pihak Kemenlu RI tak sembarangan untuk mengirimkan mahasiswa magang ke luar negeri. 

 

"Tujuannya memang baik yaitu magang di negara lain untuk menambah kualitas dan pengalaman dari mahasiswa. Namun, kalau untuk kerja paksa saya kira itu tak manusiawi,” jelasnya.

 

Seperti kabar yang beredar, ada sekitar 300 mahasiswa asal Indonesia berusia di bawah 20 tahun diduga menjadi korban kerja paksa di Taiwan. Mereka diduga kuat diperdaya melalui program magang antara kampus yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan. 

 

Dalam sepekan para mahasiswa itu dikabarkan hanya belajar di kelas selama dua hari. Setelah itu mereka bekerja empat hari di pabrik selama 10 jam, dan mendapat jatah satu hari untuk libur. Mereka kabarnya dipekerjakan di pabrik lensa kontak di Hsinchu dengan waktu kerja dari pukul 07.30 sampai 19.30 waktu setempat.

 

Mereka harus berdiri selama 10 jam dan membungkus setidaknya 30 ribu bungkus lensa kontak, dengan waktu istirahat hanya dua jam. Mereka yang rata-rata Muslim, diberi makanan yang tidak halal. (ari)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive