• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Makro ekonomi 2 tahun terakhir pemerintahan Jokowi tunjukkan angka negatif

January 17, 2019

 

Sby,MercuryFM - Pakar ekonomi senior Rizal Ramli menilai selama 2 tahun terakhir indikator makro ekonomi saat ini menunjukkan angka yang memprihatinkan dan cenderung negatif perkembangannya.

"Neraca perdagangan tahun 2018 sebesar -8,3 miliar USD atau terjelek sejak 1975 sehigga defisit current acruall rendah yang menyebabkan nilai tukar rupiah juga jelek,” ujarnya setelah menjadi pembicara seminar ekonomi di Surabaya, Kamis (17/01/19).

Menurut Rizal Ramli, dirinya mengakui pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintahan Jokowi memang tak bisa dibantah sangat bagus. Namun bukan berarti tidak memiliki kelemahan.

“Kelemahan infrastruktur yang dibangun Jokowi itu manfaatnya belum bisa langsung dirasakan masyarakat karena masih butuh infrastruktur pendukung lainnya. Yang imbasnya belum siginifikan terhadap pertumbuhan ekonomi,"  bebernya.

Di contohkannya pembangunan waduk dan bendungan tidak bisa dimanfaatkan masyarakat petani jika tidak juga dibangun saluran irigasi sekunder dan tersier. Sedangkan pembangunan jalan tol juga bagus untuk memperlancar distribusi orang dan barang. Tapi supaya bisa manfaat ekonominya lebih besar maka harus ada trading systemnya.

Ekonomi itu, lanjut mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur bukan hanya soal infrastruktur. Namun secara garis besar menyangkut kestabilan harga-harga, lahan pekerjaan dan indikator-indikator makro ekonomi.

Kata Rizal, Dampak lainnya, akibat ekonomi tak sehat dan antibody lemah saat ini Indonesia mudah goyah oleh kebijakan negara lain. Di kawasan negara-negara Asean, ekonomi Indonesia paling banyak grafik merahnya dan Thailand sedikit dibawahnya.

"Saat Brasil mengalami krisis, Indonesia terbatuk-batuk. Ketika Amerika menaikkan suku bunga, Indonesia langsung terpuruk. Kalau Asean terdampak harusnya bukan hanya Indonesia yang terdampak tapi juga seluruh Asean. Tapi buktinya hanya Indonesia dan Thailand saja yang grafik ekonominya merah," bebernya

"Dan ini juga bukti faktor internal Indonesia ada kelemahan yang harus diperbaiki tapi pejabat tidak jujur dan selalu menyalahkan faktor internasional,” lanjutnya.

Rizal Ramli juga mengatakan, diantara kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi yang paling banyak mendapat rapot merah adalah import pangan. Bahkan sejatinya jargon kerja-kerja-kerja di sektor perdagangan itu, hanya menguntungkan bangsa lain seperti Thailand dan Vietnam di bidang pertanian dan Australia di bidang garam.

“Harus ada simbolik pemerintah sekarang mau berubah lebih baik apa tifak disisa 3 bulan pemerintahan Jokowi ini bila ingin dapat dukunhan lagi. Misalnya reshuffle Enggartiasto dari Mendag. Kalau tidak ya sama saja tidak akan ada perubahan,” tegasnya

Diakui Rizal, persoalan ini pernah ditanyakan langsung ke Prabowo maupun Jokowi. Apa yang akan dilakukan jika terpilih menjadi Presiden pada April mendatang untuk mengatasi persoalan import pangan dan melawan godaan bantuan keuangan dari para Taipan Kartel Import.

“Jawaban Prabowo lebih bagus bahwa sejak keluar dari tentara dia menjadi ketua HKTI karena ingin wujudkan kedaulatan pangan. Kalau terima duit taipan kartel itu sama saja dia ingin menembak kakinya sendiri,” ungkap ekonom asli Sumatera ini.

Sebaliknya Presiden Jokowi ketika ditanya apakah akan mempertahankan kartel quota pangan atau tidak, hingga sekarang belum dijawab.

“Kalau dia jawab akan mempertahankan maka saya akan kampanye jangan pilih Jokowi. Tapi kalau jawabannya akan mengganti sistem ini supaya leebih adil, maka saya akan minta bukti simbolik seperti pecat Mendag. Baru saya skan kanpanye untuk kemenangan Jokowi," pungkasnya. (ari).

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags