Rasa empati harus terus dibangun untuk memperkuat kebangsaan

February 21, 2019

 

Sby,MercuryFM - Persatuan dan kesatuan yang memperkuat kebangsaan tidak akan bisa dibangun tanpa adanya rasa empati. Sebab dalam empati ada kepekaan untuk membangun komunikasi yang lebih baik. Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak saat menghadiri Dialog Kebangsaan Seri VIII dengan tema Mengokohkan Kebangsaan: Meneladani Patriotisme Arek Surabaya Bagi Indonesia Emas 2045 di Stasiun Besar Surabaya Gubeng, Kamis (21/2/2019).

 

Emil lantas bercerita ketika tahun 2017 mengikuti fellowship ke Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat. Dirinya diajarkan tentang empati. Serta ditambah ada sebuah kepercayaan bahwa kreatifitas masa depan bukan dibangun dari kreatifitas individual, namun dari co-creation.

 

“Nilai-nilai ini yang kemudian bisa kita petik bahwa rasa kebangsaan tidak bisa muncul tanpa adanya empati, dan empati ini yang akan kita bangun bersama,” katanya.

 

Selain menumbuhkan empati, kata mantan Bupati Trenggalek ini, memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bisa dilakukan dengan membangun ruang publik sehingga komunikasi terjalin dengan baik. Apalagi ia meyakini Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, adalah tokoh bangsa yang berpengalaman membawa bangsa ini dalam mempererat persatuan dan kesatuan, serta memiliki sejarah panjang dalam menjaga kebersamaan.

 

“Kami juga memiliki program Jatim Harmoni dalam Nawa Bhakti Satya yang membuka ruang bagi seniman dan atlet untuk memainkan peran teladan di masyarakat. Bila nilai humanistik ini dibangun dan kita berbicara soal alam dan budaya, saya yakin tidak ada sekat karena kepentingan kita sama dan kita bisa lebih bersatu,” katanya.

 

Dalam kesempatan ini Wagub Emil Elestianto Dardak juga mengapresiasi atas dilaksanakannya Gerakan Suluh Kebangsaan yang dilandasi keprihatinan atas apa yang berpotensi mempengaruhi soliditas Bangsa Indonesia. Apalagi saat ini, era persaingan industri yang ketat memunculkan paradigma baru dalam perdagangan dunia. Dimana negara Asia Tenggara dan Asia Selatan berebut relokasi industri dari China. 

 

“Di tengah perang dagang saat ini, sangat tidak tepat bila kita bertengkar dalam negara sendiri, maka inisiatif yang digagas Prof Mahfud ini sangat baik menurut saya,” katanya.

 

Pihaknya juga berharap dialog kebangsaan ini menjadi momen dalam menggugah semangat kebangsaan generasi muda penerus bangsa. Apalagi gerakan ini dimulai dari Merak, Banten sampai Banyuwangi.  

 

“Bahwa pembangunan tujuannya mempersatukan, bukan hanya sekedar mencetak uang atau mengisi uang, tapi pembangunan infrastruktur untuk menyatukan bangsa. Kita harus berjuang keras membuat infrastruktur itu berkelanjutan,” katanya.

 

Ia lantas mengutip apa yang disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, bahwa Jatim adalah mata air bangsa dengan sejarah panjang Sumpah Palapa yang menyatukan nusantara. Tidak hanya itu, banyak tokoh bangsa berasal dari Jatim seperti HOS Cokroaminoto, Ir. Soekarno, dan KH. Hasyim Azhari.

 

“Atas nama Pemprov Jatim saya menyampaikan terima kasih acara ini bisa dilakukan di Jatim, semoga bangsa kita bisa melalui proses demokrasi ini dengan baik, kepala dingin dan menghasilkan kepemimpinan nasional serta mampu menjaga momentum yang kita capai selama ini,” katanya.

 

Sebelumnya, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD mengatakan, Gerakan Suluh Kebangsaan lahir karena rasa prihatin dan khawatir terhadap perkembangan situasi politik belakangan ini, terutama menjelang pemilu. Dimana ada pengelompokan menajamen ditandai dengan saling serang secara tidak etis, serta berkembangnya hoax secara terus menerus.

 

“Hoax ini gerakan pengacau pemilu karena sudah diberitahu salah, tapi dikembangkan terus. Hoax ini menyebarkan informasi sesat yang semakin dijelaskan bahwa itu sesat, semakin dikembangkan,” katanya.

 

Selain mencegah berkembangnya hoax, lanjutnya, Gerakan Suluh Kebangsaan juga mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya atau menghindari golput, karena akan merugikan kebaikan. 

 

Hadir dalam kegiatan ini selain Wagub Emil Dardak dan Mahfud MD sebagi penggagas, juga hadir mentri perhubungan Budi Karya Sumadi, Alissa Wahid, KH Agus Ali Mashuri serta beberapa pembicara lainnya.

 

Gerakan Suluh Kebangsaan ini digagas antara lain oleh Buya Syafi’i Ma’arif, Gus Mustofa Bisri, Kyai Habib Lutfi, Sinta Nuriyah Wahid, Kardinal Darmaatmadja dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive