• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Ini langkah Gubernur Khofifah atasi banjir akibat luapan aliran sungai bengawan solo dan curah hujan

March 8, 2019

 

Sby, MercuryFM - Antisipasi meluapnya Sungai Bengawan Solo terutama saat tingginya intensitas hujan, yang mengakibatkan banjir dibeberapa wilayah Jatim, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa akan menambah tiga sudetan baru. 

 

Sebab dari hasil konsultasi dengan pakar air, Sungai Bengawan Solo membutuhkan lima sudetan, dan saat ini baru terdapat dua sudetan.

 

“Saya sudah minta untuk menyempurnakan tata ruang wilayah Jatim, kira-kira di kabupaten mana saja yang bisa menyiapkan lahan untuk dijadikan sudetan Sungai Bengawan Solo, jadi bisa sustain. Kalau butuhnya lima sudetan sekarang baru ada dua, tidak bisa kita selesaikan tuntas dan butuh langkah strategis jangka panjang,” katanya setelah melakukan pertemuan dengan pimpinan DPRD Jatim terkait pengajuan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Memengah Daerah) Jatim di gedung DPRD Jatim, Jumat (08/03/19).

 

Khofifah menyampaikan bahwa pihaknya tengah memfinalisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jatim agar bisa menyiapkan kabupaten mana saja yang dilewati aliran bengawan Solo guna menyediakan lahan untuk sudetan sungai Bengawan Solo. 

 

“Sesuai pemetaan sudetan Bengawan Solo idealnya 5, namun sekarang baru ada 2 yang ada di Bojonegoro dan Sidayu Gresik, sehingga dibutuhkan 3 sudetan lagi,” tuturnya.

 

Selain itu kata Gubernur, perawatan embung-embung yang sudah ada harus menjadi tanggung jawab bersama baik pemerintah dan masyarakat. Hal ini perlu menjadi perhatian karena memiliki manfaat yang cukup besar yakni sebagai penampungan air ketika hujan, dan sumber air ketika kemarau.

 

“Di Jatim ada sekitar 416 desa yang berpotensi kekeringan saat musim kemarau dan banjir saat musim hujan, maka diperlukan embung untuk bisa menyimpan dan memanfaatkan air,” urai Khofifah yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Kerja.

 

Lebih lanjut disampaikan, biopori juga menjadi penting dalam hal antisipasi saat musim hujan maupun kemarau, sehingga setiap bangunan memiliki serapan-serapan air yang baik.

 

Sedangkan di sisi petani akan dilakukan penyisiran untuk pemberian asuransi sehingga saat terjadi banjir dan gagal panen petani tetap terkonversi oleh asuransi.

“Asuransi dibutuhkan petani agar mereka tetap punya harapan bahwa ada yang dijaminkan saat terjadi gagal panen,” terang Khofifah.

 

Selain menambah jumlah sudetan, Khofifah juga terus melakukan langkah-langkah koordinatif dengan instansi terkait dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.

 

“Dalam waktu kurang lebih dua jam ini BBWS akan melakukan langkah preventif dengan menyiapkan sand bag atau karung pasir untuk mengantisipasi makin meluasnya luapan tanggul di Balerejo. Sedangkan untuk jangka panjang akan dibuat Bronjong, kemudian Plengsengan,” kata Khofifah lagi.

 

Tidak hanya itu, selama seminggu ini Khofifah akan terus melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan Bupati/Walikota yang wilayahnya terdampak banjir seperti Bojonegoro, Lamongan, Ponorogo dan Ngawi. Ia juga akan melakukan koordinasi agar daerah-daerah tersebut dapat melakukan mitigasi bencana dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

 

Selain itu Khofifah akan menyiapkan sebuah sistem peringatan dini atau early warning system akan terjadinya bencana berbasis digital. Hal ini penting dilakukan mengingat topografi wilayah Indonesia termasuk Jawa Timur yang memungkinkan sering terjadi bencana.

 

"Saya sedang mengkomunikasikan dengan provider-provider agar bisa mengirimkan informasi kepada masyarakat akan terjadinya bencana lewat SMS misalnya,” ungkap Khofifah kembali.

 

Khofifah menjelaskan lagi bahwa saat ini masyarakat hampir semuanya memiliki gadget. Oleh sebab itu, ini harus bisa dimanfaatkan dengan baik khususnya dalam hal antisipasi atau waspada bencana. Dicontohkan, untuk banjir di Kab. Ngawi disebabkan oleh adanya luapan sungai Bengawan Solo yang masuknya lewat kali Madiun, sehingga dibutuhkan waktu sekitar 6 jam air akan sampai Ponorogo dan sekitar 10 jam sampai Ngawi.

 

“Nantinya akan ada pemberitahuan lewat handphone/hp warga, bahwa dalam waktu sekian jam akan terjadi banjir di wilayahnya,” terangnya sembari berharap jika teknologi ini sudah diterapkan maka masyarakat akan lebih bisa mengantisipasi dan waspada.

 

Selain itu, Khofifah juga meminta masyarakat Jatim untuk bisa living harmony with disaster mengingat topografi wilayah Jatim. Masyarakat Jatim harus mengetahui bahwa lima bencana tertinggi yang mungkin terjadi di Jatim yaitu banjir, kebakaran, angin termasuk di dalamnya puting beliung, dan tanah longsor. 

 

“Saat ini memang banjir merupakan peringkat nomor satu bencana yang sering terjadi di Jatim,” pungkasnya. (ari)

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive