• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Penyebab banjir di Madiun dan sekitarnya sudah dilakukan penanganan berkelanjutan

March 9, 2019

 

Sby, MercuryFM - Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menegaskan penanganan infrastruktur yang menimbulkan banjir di Madiun dan sekitarnya mulai ditangani. Bantuan dan kerjasama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah turun untuk melakukan penyelesaian baik jangka pendek maupun panjang.  

 

"Di hulunya ada titik-titik sungai dari mulai Bengawan Solo ke Kali Jeroan itu ada tanggul-tanggul yang jebol. Saya meminta yang jebol di sini apa yang bisa dilakukan, dalam jangka pendek 3 jam berikutnya datang alat berat mereka untuk membetulkan," kata Khofifah usai rapat singkronisasi RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah) Jatim dengan pimpinan di DPRD Jawa Timur, Sabtu (08/03/19).

 

Pembenahan tanggul ini, lanjut Khofifah merupakan penanganan jangka pendek. Sedangkan untuk jangka panjang ia menginginkan sungai sudetan seperti di Bogor, Puncak dan Cianjur (Bopuncur). 

 

Mantan menteri Sosial itu mengaku telah berkomunikasi dengan Menteri PUPR tentang sudetan di Bengawan Solo. 

 

"Format bopuncur bisa menjadi solusi jangka panjang karena kalau banjir dengan intensitas hujan tinggi, luapanya itu tidak menjadi banjir yang besar," urainya. 

 

Pembangunan sudetan, masih menurut Khofifah diperlukan kerjasama dengan berberapa pihak. Pemerintah kabupaten berperan membebaskan lahan, sedangkan Kementerian PUPR melalui APBN membangun sungai sudetannya.

 

 

 

 

Sementara itu Kepala BPBD Jatim, Suban Wahyudiono menyebut penyebab banjir di Madiun dan sekitarnya disebabkan curah hujan yang tinggi dan dalam waktu lama. 

 

"Hulu daerah seperti Wonogiri, Pacitan, Ponorogo dan Solo mengalami curah hujan tinggi, sebesar 150 mm dan lama. Jadi yang paling berdampak adalah memang daerah Madiun," ujar Suban saat dikonfirmasi. 

 

Meskipun Madiun curah hujan tidak terlalu tinggi, namun air Sungai Bengawan Madiun tidak bisa masuk ke Bengawan Solo. Begitu juga dengan Sungai Jeroan, tak dapat keluar ke Bengawan Madiun. "Walaupun Madiun curah hujannya rendah, tapi di hulu curah hujannya tinggi sama saja. Teori nya seperti itu," urainya. 

 

Suban melihat selain karena curah hujan tinggi, hasil navigasi di beberapa daerah ditemukan perlunya sudetan akibat berkurangnya resapan air. Seperti di Bojonegoro, menurutnya yang ditakutkan masyarakat adalah bukit perbatasan Bojonegoro Selatan dengan Nganjuk. Di Kecamatan Temayang dahulu ada bukit lebat hutan, kini sudah gundul. 

 

Akibatnya setiap tahun terjadi banjir bandang. Artinya diperlukan sudetan untuk antisipasi banjir bandang. 

 

"Gubernur sudah membuat surat rekomendasi untuk memakai lahan Perhutani dibuat sudetan ke waduk pacal, sehingga kalau terjadi banjir tidak sampai kena pemukiman," pungkasnya. (ari)

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive