• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

DPRD Jatim dukung langkah Dinas Lingkungan Hidup kurangi limbah plastik dan peningkatan kualitas air bersih

March 13, 2019

 

Sby, MercuryFM - Langkah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim yang memprioritaskan penanganan persoalan limbah plastik dan peningkatan kualitas air pada program kerja triwulan pertama tahun 2019. Mendapat dukungan Komisi D DPRD Jatim. Alasannya, program tersebut sejalan dengan program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah pusat. 

 

“Kami juga mendorong bukan hanya menjadi program pemerintah daerah tapi bagaimana mengajak masyarakat supaya ikut berpartisipasi dalam membantu mengurangi sampah plastik,” ujar Ketua Komisi D DPRD Jatim Edi Paripurna usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DLH Jatim di ruang Komisi D DPRD Jatim, Rabu (13/03/19).

 

Menurut Edi, kepedulian masyarakat terhadap sampah plastik sangat dibutuhkan, mengingat Indonesia tergolong nomor dua peringkat pengguna plastik di dunia.  Dampak limbah plastik juga perlu penanganan lebih maksimal, hingga pemerintah membuat aturan pengurangan penggunaan tas kresek (plastik).

 

Termasuk kata politisi PDI Perjuangan ini, juga  menyangkut pemenuhan  kebutuhan masyarakat akan air bersih.   

 

"Kita  sangat mendukung langkah  DLH Jatim tersebut. Karena hal itu sejalan dengan prioritas 99 hari kinerja Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa yang fokus memperbaiki kondisi lingkungan termasuk sungai," jelasnya.

 

“Dalam P-APBD Jatim mendatang persoalan ini tentu perlu dibahas lebih teknis khususnya menyangkut kebutuhan anggarannya sebab persoalan ini juga menjadi prioritas Gubernur Khofifah,” sambungnya.

 

 

 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jatim, Diah Susilowati menjelaskan bahwa kualitas air dalam kondisi musim penghujan biasanya membaik karena ada akumulasi dari hujan. 

 

Secara teknis pihaknya terus mengupayakan agar meningkat. Karena Indek Kualitas Air Jatim baru 52,66 dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 55-56, dengan kondisi COD dan BOD masih di kelas 3 menuju ke kelas 2 sehingga belum bisa masuk kelas 1.

 

“Ini karena banyak limbah domestik yang mempengaruhi kualitas air di Jatim juga karena bakteri coli yang tinggi serta sedimentasi tinggi yang terjadi di hulu akibat lahan kritis yang mengalami longsor saat musim hujan,” terang Diah Susilowati.

 

Diakui Diah, aktivitas penambangan liar juga ikut menyumbang sedimentasi yang tinggi serta sampah plastik yang banyak mencemari air sungai sehingga menjadi dangkal. 

 

“Limbah domestik perlu penanganan karena kebanyakan masyarakat tidak memiliki IPAL yang memadai sehingga air kotornya tidak tersaring dengan baik serta industri kecil yang perlu diberikan treatmen,” jelasnya.

 

DLH Jatim lanjutnya juga terus melakukan pengawasan kebersihan sungai-sungai di Jatim. Diantaranya dengan gerakan menyusuri sungai, membentuk masyarakat jogo kali untuk mengedukasi masyarakat dapat mengurangi limbah yang dibuang ke sungai.

 

“Kami juga akan membangun sarana dan prasarana memadai untuk limbah domestik (rumah tangga) bekerjasama dengan Dinas PUPR serta membangun infrastruktur untuk IKM-IKM supaya ada treatment, serta penegakan hukum bagi pembuang limbah sembarangan,” pungkasnya. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive