• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Jatim ekspor daun kelor ke Korea Selatan

March 21, 2019

Sby, MercuryFM - Daun kelor ternyata diminati oleh warga Negara Koresa Selatan. Ini tampak dengan Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melepas ekspor 12 ton daun kelor ke Korea Selatan. 

 

"Ini baru pertama kali ekspor daun kelor. Nilainya mencapai Rp 13 milliar," ujar Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya Musyaffa' Fauzi, Kamis (21/03/19).

 

Kata Fauzi, daun kelor menjadi salah satu komoditas yang dikirim untuk ekspor dengan total keseluruhan 416 ton, terdiri dari produk agro dan beberapa hewan ternak. 

 

"Ini kan hanya empat yang diseremonialkan, sebenarnya per hari bisa 200 kontainer," ungkapnya. 

 

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyambut baik ekspor beberapa produk unggulan dari Jawa Timur, seperti daun kelor, kopi, minyak, kayu, sarang burung walet dan susu grenfield. 

 

Diantara komoditi ekspor tersebut, yang menarik perhatian Khofifah adalah daun kelor. Selama ini, dirinya baru mengetahui ternyata sangat diminati di Korea Selatan. 

 

"Ini luar biasa. Saya baru tahu ternyata daun kelor diminati masyarakat laur negeri. Pangsa pasarnya di Korsel," kata Khofifah. 

 

Kata Gubernur ekspor menjadi bagian penting untuk mendatangkan devisa, mendorong penguatan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Karenanya, Pemprov ingin mengajak para eksportir membangun hubungan kerjasama yang kuat dengan usaha kecil menengah (UKM) dan industri kecil menengah (IKM) .

 

Terutama lanjutnya di sektor agro, yang hingga sekarang dinilai masih banyak petani perlu mendapatkan pendampingan. Tujuannya supaya semua produk dapat memenuhi standard ekspor. 

 

"Jadi membangun aliansi antara eksportir dengan petani, apakah lewat gabungan kelompok tani (gapoktan) atau kelompok tani nelayan andalan (KTNA)," bebernya. 

 

Sejauh ini petani di Jawa Timur kata Gubernur yang juga ketua Muslimat NU,  belum seluruhnya memahami standard yang ekspor. Khofifah mencontohkan ketika ia menemui petani paprika di sejumlah wilayah. Produksinya lumayan besar, tetapi tidak bisa ekspor. 

 

Ternyata kendala yang dihadapi adalah pupuk kimia. Beberapa negara menolak komponen pupuk kimia yang digunakan petani paprika Jatim. 

 

"Hal seperti ini perlu pendampingan. Bagaimana pupuk terlarang ini dapat tergantikan. Sehingga pendampingan pada petani paprika ini perlu, agar bisa memenuhi pasar ekspor," pungkasnya. (ari)

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive