• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Bank Mandiri siap dukung bisnis perdagangan FMCG di Jatim agar lebih maju dan optimal

April 2, 2019

 

Sby, MercuryFM - Bank Mandiri akan terus mendukung bisnis perdagangan Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Karena perdagangan FMCG di Jawa Timur, merupakan salah satu sektor potensial mengingat jumlah penduduk di wilayah ini mencapai 39,3 juta jiwa dan kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 59,3 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur. 

 

Vice President Bank Mandiri Regional Surabaya, Atta Alva Wanggai mengatakan hal ini semakin diperkuat dengan keuntungan letak geografis yang strategis dalam perdagangan antar pulau. "Kita telah menyalurkan kredit sektor ini Rp 21,3 triliun di tahun 2018," kata Atta Alva saat acara Forum Discussion Group dengan tema Persaingan Pasar Tradisional VS Modern dalam Perdagangan FMCG (Fast Moving Consumer Goods) di Surabaya, Senin (1/4/2019).


Atta menjelaskan menjadi sektor primadona, perdagangan FMCG justru melahirkan persaingan yang ketat sebagai tantangan utama. Dengan jenis produk yang cukup homogen, persaingan muncul antar pemain dalam multi format dan segmen perdagangan. "Dapat kita lihat isu klasik persaingan pasar tradisional dan modern," jelasnya.

Pemerintah sendiri telah melakukan beberapa upaya untuk mencari jalan tengah atau win-win solution, mulai dari penataan pasar tradisional dan toko modern melalui zonasi, program quick win kebijakan pemerataan ekonomi ritel modern dan pasar tradisional, hingga peraturan kemitraan antara ritel modern dan pedagang tradisional dimana peritel modern wajib menjadi pemasok bagi pedagang tradisional.

"Kami di Bank Mandiri juga memiliki peran sebagai agent of development. Jadi, kami bukan hanya bertindak sebagai institusi perbankan melalui dukungan finansial bagi para pemain di industri, namun juga menjembatani para pemangku kepentingan di sektor perdagangan FMCG untuk mencari solusi bersama sehingga tantangan yang ada dapat berubah menjadi kesempatan bagi perdagangan FMCG di Jawa Timur untuk maju lebih optimal," tegasnya.

 

Sementara itu Koordinator Wilayah Indonesia Timur Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Abraham Ibnu menambahkan pasar tradisional masih menjadi andalan produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dalam penjualan produknya. Berdasarkan data Nielsen, kontribusi penjualan melalui channel tradisional baik pasar maupun toko kelontong mencapai 72-74 persen. 

 


"Dari 2014-2018 penjualan melalui pasar tradisional masih mendominasi," katanya.

Sedangkan di ritel modern, untuk supermarket dan hypermarket hanya berkisar 6-8 persen dan minimarket di kisaran 20 persen. 

Abraham Ibnu menuturkan, pabrikan lebih senang menjual produk yang diproduksi di berbagai pasar tradisional dibanding pasar modern karena peredaran uang cash di pasar tradisional jauh lebih besar dibanding pasar modern.

Di pasar tradisional pembayaran selalu dilakukan secara tunai dan pada saat itu juga. Sehingga pelaku bisnis FMCG akan bisa kembali memutar modal mereka dengan cepat. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan di pasar modern dimana pembayaran selalu mundur sekitar satu bulan. 

Terkait penjualan produk FMCG pada tahun ini, ia mengungkapkan bahwa pada awal tahun 2019 sedikit terkoreksi. Penjualan FMCG di pasar tradisional pada Januari mengalami penurunan seb3sar 1,1 persen. 

Namun secara keseluruhan, penjualan FMCG di tahun 2019 diperkirakan bakal tumbuh sebesar 2,4 persen, naik dibanding tahun lalu yang hanya tumbuh sebesar 1 persen. 

“Pertumbuhan terbesar terjadi pada produk skincare yang mencapai 14,4 persen, disusul coklat sebesar 12,8 persen dan susu cair yang mencapai 12,5 persen,” tambahnya.

Ketua Asosiasi Paguyuban Pedagang Pasar Surabaya (AP3S) Andreas Felix menambahkan, secara umum pihaknya tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan pasar modern. Masing-masing channel memiliki segmen pasar tersendiri.(Dani)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive