• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Aktifitas politik pengaruhi perekonomian Jatim

May 7, 2019

 

Sby,MercuryFM - Tingginya aktifitas politik di awal 2019 ikut mempengaruhi perekonomian Jawa Timur. Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim bahkan mengklaim, perekonomian Jatim pada triwulan pertama 2019 tumbuh hingga 5,51 persen.Menurut Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono, sebagian besar komponen PDRB menurut pengeluaran, mengalami akselerasi. "Komponen yang mengalami kontraksi adalah impor luar negeri sebesar 2,46 persen," ujarnya, Senin (6/5/2019).

 

Terkontraksinya komponen tersebut disebabkan oleh penurunan impor migas dan beberapa komoditas non migas seperti mesin/ peralatan listrik dan alumunium. Pertumbuhan tertinggi, kata dia, terjadi pada pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 11,21 persen.

 

Tingginya pertumbuhan LNPRT, menurutnya, terutama dipengaruhi oleh kegiatan politik. Dia kemudian menyebutkan tentang kegiatan kampanye calon anggota dewan dan kampanye parpol capres dan cawapres yang disebut paling banyak berkontribusi atas tingginya konsumsi LNPRT.

 

Kenaikan ini juga disebabkan oleh kegiatan keagamaan seperti Imlek dan Nyepi yang berlangsung pada awal tahun.

 

Secara years on years, pada triwulan I/2018 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mencapai 5,42 persen atau lebih tinggi dibanding triwulan I/2017 yang hanya 5,27 persen.Secara umum, kata dia, sektor pendongkrak kenaikan pertumbuhan ekonomi Jatim terdiri ada tiga jenis.

 

Mulai dari usaha kesehatan yang mencapai 7,86 persen, industri 7,28 persen, dan penyediaan makan serta minuman sebesar 6,87 persen. Cuaca ekstrem yang memicu banjir di beberapa daerah juga ikut memicu pertumbuhan lapangan usaha jasa kesehatan di kuartal I.

 

Sedangkan untuk industri, pertumbuhan masih didominasi oleh perusahaan pengolahan seperti makanan-minuman, tekstil, dan percetakan. Momen lebaran dan pemilu tampaknya mendorong tumbuhnya tiga industri tersebut di Jawa Timur.

 

Meski tumbuh cukup bagus di years on years, menurut Teguh, untuk quartal to quartal tidak begitu menggembirakan. Dari kuartal IV/2018 ke kuartal I/2019, pertumbuhan ekonomi tipis di 0,13 persen. Tidak lebih tinggi dibanding dari kuartal IV/2017 ke kuartal I/2018 yang mencapai 0,26 persen.

 

Begitu pun dari kuartal IV/2016 ke kuartal I/2017 yang menyentuh 0,59 persen. "Dari Triwulan IV/2018 ke triwulan I/2019 ada kenaikan 0,13 persen, atau dari Rp 395,96 triliun menjadi Rp 396,47 triliun," ungkap Teguh.

 

Sementara untuk pendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi quartal to quartal adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang paling tinggi. Sektor ini mampu tumbuh sebesar 14,81 persen.

 

Awal musim panen di kuartal I ini ditengarai menjadi penyebab meningkatnya bidang agro tersebut. "Kemudian pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang tunbuh 1,41 persen, dan jasa keuangan tumbuh 1,83 persen," ungkapnya. (Alam)

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive
Please reload