• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

BEM Nusantara datangi DPRD Jatim meminta Pemerintah Pusat batalkan kebijakan Impor garam

July 15, 2019

 

Sby,MercuryFM - Kebijakan pemerintah yang melakukan kebijakan impor garam yang sampai saat ini sudah mencapai 2,7 juta ton, diprotes puluhan mahasiswa.

 

Puluhan mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur yang mengatasnamakan BEM Nusantara, mendatangi DPRD Jawa Timur, Senin (15/7/2019). Meminta pemerintah membatalkan kebijakan impor garam tersebut.

 

Koordinator BEM Nusantara, Cahya Nugraha menjelaskan bahwa kebijakan impor tersebut menyebabkan penyerapan garam produsen lokal berkurang. 

 

"Impor garam berdampak pada matinya produksi garam lokal di daerah-daerah penghasil garam termasuk Jatim yang menjadi propinsi penghasil garam terbesar," kata Cahya ditemui di sela aksi tersebut.

 

Menurut Cahya, pihaknya menilai bahwa kebijakan impor garam hanya menjawab permasalahan pelaku industri, namun merugikan penambak garam. 

 

"Hal ini sekaligus menggeser profesi masyarakat pesisir yang biasanya menjadi penambak garam kini semakin sedikit. Mereka bersikap realistis karena tidak adanya kepastian penyerapan hasil produksi mereka," jelasnya.

 

Oleh karenanya, selain menuntut pembatalan impor garam, mahasiswa juga berharap pemerintah dapat meningkatkan kualitas produksi garam lokal sekaligus menetapkan Harga Penjualan Pokok (HPP) garam. 

 

"Saat ini, harga garam anjlok mencapai Rp300 perkilonya. Kasihan para petani garam," katanya.

 

Menanggapi hal ini  Anggota DPRD Jatim dari Komisi B Zainul Lutfi yang menemui mereka mengatakan akan meneruskan aspirasi mahasiswa ini ke pemerintah pusat. Karena ini kebijakan pusat.

 

Lutfi menjelaskan bahwa masalah impor garam selalu terjadi tiap tahun. Sebab, hingga saat ini belum ada solusi konkret untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas garam lokal. 

 

"Mau tidak mau, dampak masalah impor akan berhubungan langsung untuk masyarakat. Potensinya, 5-10 tahun akan begini terus," katanya. 

 

Pihaknya kata politisi PAN ini, juga akan memastikan data yang digunakan sebagai dasar impor tersebut. 

 

"Konstruksi program seharusnya berbasis data. Kalau data salah, maka programnya pun salah. Untuk itu, data tersebut perlu dipastikan," katanya.

 

Data yang dimaksud Lutfi adalah defisit garam industri yang mencapai 2,7 juta ton. Dari kebutuhan 3,8 juta ton pertahun, produksi garam lokal disebut baru mencapai 1,1-1,2 juta ton. 

 

"Sebab, garam industri (dari impor) itu seringkali luber ke pasaran. Sehingga, bukan sekadar data BPS (Badan Pusat Statistik), namun harus ada data pendamping. Misalnya, data dari kampus," katanya. 

 

Selain itu, pemerintah diharapkan juga harus menyiapkan solusi konkret untuk meningkatkan kualitas garam agar memiliki kualitas setara dengan garam luar. 

 

"Peran pemerintah kedepan ada dua. Dalam jangka panjang, harus ada pembinaan agar kualitas garam bisa masuk industri. Jangka pendeknya, pemerintah harus bisa membuat harga stabil kembali," kata politisi PAN ini.

 

Untuk diketahui, tahun ini pemerintah memutuskan mengimpor 2,7 juta ton garam untuk kebutuhan industri. Impor sebanyak itu dilakukan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan garam nasional yang mencapai 3,8 juta ton. 

 

Impor tersebut cenderung meningkat dibanding tahun sebelumnya. Yang mana, pada 2017 mencapai 2,55 juta ton. Kemudian, impor pada 2018 naik menjadi sebesar 2,72 juta ton dan 2,72 juta pada 2019. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive