• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Harga garam 300 per kilogram, petani garam Jatim kembali datangi DPRD Jatim

July 22, 2019

 

Sby, MercuryFM - Turunya harga jual garam petani yang harganya mencapai 300 rupiah perkilogram membuat petani garam alami kerugian yang cukup besar.

 

Dengan mendatangi DPRD Jatim, Senin (21/07/19) puluhan petani garam madura mewakili ratusan petani garam se Madura, kembali meminta DPRD Jatim agar lebih serius memperjuangkan nasib petani garam yang ada di Jatim, khusunya Madura. Sebab sampai saat ini semenjak aksi beberapa waktu lalu tidak ada perbaikan terkait harga jual garam petani tersebut.

 

Dalam aksinya ini mereka berharap DPRD Jatim ikut turun tangan memperjuangkan kenaikan harga sesuai HPP (Harga Pokok Penjualan), seperti tahun 2017 lalu.

 

Ketua Kelompok Usaha Garam (Kugar) Makmur Bangkalan Mahdori Aprianto, yang ada di lokasi mengatakan, anjloknya harga garam membuat penghasilan petani menurun drastis. Bahkan, di beberapa lokasi, para petani terpaksa menutup tambak garam mereka dan berganti menekuni usaha lain untuk menyambung hidup.

 

"Ya tentunya sangat berimbas sekali ke ekonomi petambak garam, sedangkan biaya pangan yang lain meningkat, kebutuhan meningkat dan penghasilan menurun. Kami terpaksa berputar haluan, menjual eceran sampai menyetop tambak," katanya pada Senin (22/7/219).

 

Menurut Mahdori, harga garam saat ini jatuh sampai level Rp 300 sampai Rp 400 rupiah perkilonya. Padahal, biaya operasional perkilonya untuk pengolahan, pengangkutan dan tenaga kerja mencapai Rp 350 rupiah perkilonya. Dalam enam bulan, ketika kondisi normal, petani bisa panen mulai 150 sampai 200 ton untuk setiap hektar lahan garam.

 

"Biaya operasional sekarang meningkat antara 350 tergantung lokasi tambak. Mulai dari bawah pembelian sak, pengangkutan dan persiapan pemberangkatan pengiriman. Persiapan panggul dan terakhir ongkos kirim," katanya lagi.

 

Agar kebutuhan mereka terpenuhi lanjutnya, petani terpaksa menggadaikan BBKPB dan perhiasan yang dimilikinya. Beberapa petani memilih menyetop penjualan dan memasukkan garam mereka ke gudang. Petani berharap agar pemerintah menyetop impor, supaya harga garam kembali stabil.

 

"Kita kebingungan dengan harga rendah ini. Ya tentu mayoritas penggadaian BPKB, surat-surat motor, gadaikan BPKB mobil motor. Harapannya agar pemerintah  agar stop impor dan menstabilkan harga garam dan sangat simpel. Kami sebagai petambak garam miris dan menangis," pungkasnya.

 

 

Menanggapi aksi ini, ketua komisi B DPRD Jatim Achmad Firdaus Febrianto mengatakan pihaknya sampai saat ini terus memperjuangkan apa yang menjadi keinginan para petani garam yang ada di Jatim khusus

nya dari Madura.

 

Komisi B kata Firdaus sejak tahun 2017 telah melakukan beberapa upaya untuk melindungi petani garam yang ada di Jatim khusunya perlindungan dari adanya kebijakan impor garam yang dilakukan oleh pemerintah.

 

Lanjut poitisi partai Gerindra ini, pihaknya akan terus berjuang meminta agar pemerintah tetap memperhatikan nasib petani garam yang ada, mengingat Jatim salah satu propinnsi penghasil garam terbesar.

 

"Kita akan berjuang agar garam yang saat ini tidak menjadi bahan pokok bisa kembali masuk dalam kriteria bahan pokok. Sehingga bisa ditentukan HPPnya. Dengan adanya HPP maka harga garam petani bisa dilindungi dan petani tidak alami kerugian," pungkasnya. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive