• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Bappenas sebut Presiden masih lihat banyak daerah kurang ramah investasi

July 29, 2019

 

Sby,MercuryFM - Investasi di daerah dinilai Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) masih seret dan belum ramah terhadap investasi hal ini diakui kepala Bappenas, Bambang P.S. Brodjonegoro yang membuat Presiden Joko Widodo gundah.

 

"Presiden belum melihat bahwa semua daerah dan semua aparat pusat itu satu pandangan mengenai pentingnya investasi," ujar Bambang usai memberi paparan tentang pengarahan RPJMN 2020-2024 di Hotel Sangri La, Senin (28/07/19).

 

Menurut Bambang, masih semua daerah seret dalam hal membuka kran investasi. Bahkan cenderung beberapa daerah di Indonesia masih melakukan pembatasan terhadap investasi langsung. Data yang disampaikan, stok investasi langsung hanya 22,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). 

 

"Dibanding Filipina masih lebih tinggi 25,1 persen. Dengan Vietnam 60,1 persen," ungkap Bambang. 

 

Padahal, lanjut Bambang, pembatasan investasi langsung mengakibatkan 8 persen investasi berorientasi ekspor yang masuk ke Indonesia. Tidak hanya itu, upah buruh juga berdampak dengan turun 15 persen dari yang seharusnya. 

 

Mantan menteri keuangan itu berharap yang menjadi penghambat regulasi ditata lagi. Sehingga investasi yang akan masuk ke dalam negeri semakin mudah. 

 

"Reformasi birokrasi harus menyertai, apa yang menghambat investasi dari birokrasi yang rumit. Itu yang juga dikeluhkan presiden," kata Bambang. 

 

Dirinya kata Bambang menyarankan pemerintah daerah memberikan regulasi yang mudah. Dengan begitu implementasinya di lapangan semakin mudah. 

 

"Bukan untuk memperlambat atau mempersulit, kemudian kalau ada aturan yang menghambat harus segera direvisi aturan tersebut, sehingga semua aturan benar-benar untuk menarik invetasi," tegasnya. 

 

Bambang menolak dikatakan investasi tidak berpengaruh bagi masyarakat. Buktinya banyak investasi dengan padat modal yang masuk ke Indonesia. 

 

Memang, diakuinya, terkadang investasi yang bersifat surat berharga tidak langsung dapat dirasakan masyarakat. 

 

"Investasi yang sifatnya surat berharga tidak begitu berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Justru yang saya maksudkan ini investasi di sektor riil. Buka usaha baik manufaktur maupun di sektor jasa," pungkasnya. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive