• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Bertemu Gubernur, petani garam minta segera ada kebijakan untuk penyerapan garam rakyat

July 29, 2019

 

Sby,MercuryFM - Persoalan sulitnya garam rakyat di Jatim terserap pasar dengan harga yang memadai membuat  Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ambil langkah dengan asosiasi petani garam untuk duduk bersama dengan stake holder terkait untul mencari solusi terbaik. 

 

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jatim, Moh Gunawan Saleh mewakili Gubernur Khofifah mengatakan, persoalan petani garam dari dulu hingga sekarang tak berubah, yakni menyangkut penyerapan dan harga di saat musim panen raya. 

 

"Ibu gubernur sudah berkoordinasi dengan Menteri Kemaritiman dan Kelautan serta Menteri Perdagangan untuk mengupayakan adanya HPP garam," ujar Gunawan Soleh saat dikonfirmasi Senin (29/7/2019).

 

Gunawan mengakui, garam import sangat mempengaruhi harga garam lokal. Sebab, Disperindag Jatim juga kesulitan memanggil perusahaan importir dan perusahaan pengolah garam terkait jumlah garam yang diimport dan garam lokal yang diserap dan ditampung di gudang. 

 

"Saat pertemuan di Polda Jatim lalu, perusahaan pengolah garam siap mengambil garam petani asal kualitasnya baik. Idealnya untuk stabilisasi harga garam ya 700/kg," jelasnya. 

 

Sementara itu Ketua Forum Petani Garam Madura, Moh Yanto berharap Pemprov Jatim bisa menjembatani masalah yang dialami petani garam yakni turunnya harga garam rakyat dan sulit diserap pabrik pengolah garam. 

 

"Indikasi kuat karena garam import yang lebih murah tak dibatasi pemerintah sehingga perusahaan pengolah garam enggan membeli garam petani. Kalaupun menyerap mereka minta dengan harga sangat murah," tegas Yanto. 

 

Ia juga mengkritik keras Menteri Kordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan yang menyatakan garam impor tak sampai merembes ke pasar. Padahal fakta di lapangan bukan lagi merembes tapi sudah tumpah. 

 

"Kalau LBP turun ke lapangan akan kami tunjukkan bukti PT Kitam perusahaan pengolah garam itu tak pernah serap garam rakyat tapi mereka bisa produksi garam konsumsi. Itu artinya bahannya pasti dari garam import," tegas Yanto. 

 

Yanto juga mengatakan petani garam Madura mendesak perbaikan tata niaga garam dan transparansi data garam import dan produksi garam lokal. Mengingat, selama ini datanya berubah-ubah karena pemerintah sulit mengakses akibat gudang garam import dan garam lokal di satu lokasi. 

 

"Harga garam lokal KW3 sebesar 400/kg, KW2 Rp. 500/kg dan KW1 Rp.600/kg. Tapi perusahaan penyerap itu hanya buka tiap hari senin dan kamis seperti mengikuti puasa sunah," kelakar Moh Yanto. 

 

"Soal harga ideal yang diinginkan petani garam, adalah seperti tahun 2018 lalu yakni Rp.1600/kg," lajutnya.

 

Sementara itu dari data yang ada di Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jatim dijadwalkan, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan akan berkunjung ke Madura pada 5-6 Agustus mendatang untuk melihat langsung proses produksi garam rakyat. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive