• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Didepan Pendeta Papua Khofifah jamin keselamatan dan perlindungan warga dan mahasiswa

August 27, 2019

 

Sby,MercuryFM - Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa tegaskan jika dirinya tidak pernah membeda-bedakan perhatian terhadap siapapun yang tinggal di wilayah Jawa Timur. Apapun suku, agama, ras, dan budayanya selama dia tinggal di Jawa Timur maka akan mendapatkan perlindungan dan perhatian yang sama. 

 

"Jatim bagian dari NKRI, siapapun warga negara Indonesia, mempunyai hak untuk hidup dan beraktifitas di negara ini. Perbedaan agama suku ras dan budaya tidak harus menjadi pembatas kebersamaan dalam bingkai NKRI," ujar Gubernur Jatim ketika menerima  sejumlah Pendeta asal Jayapura, Manokwari, Sorong, dan Pegunungan Arfak, di gedung Grahadi, Selasa (27/08/19)

 

Dalam pertemuan yang juga dihadiri Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, Khofifah menyambut hangat para pendeta yang datang. Dirinya sangat berharap, tali persaudaraan yang sudah terjalin antara Jatim, Papua dan Papua Barat tetap terjaga dengan baik.

 

“Kami bahagia menyambut kehadiran para pendeta dari Jayapura, Manokwari, Sorong. Kita semua mempunyai harapan besar terhadap Persaudaraan Indonesia. Persaudaraan kita dapat berjalan baik, yang mempersatukan kita adalah Indonesia,” kata Khofifah. 

 

Menurut Gubernur Khofifah, religius leader termasuk para pendeta di dalamnya menjadi bagian perekat kebersamaan dan persaudaraan antara Papua-Jatim.

 

“Pendeta Agus dari BAMAG sempat bersilaturahmi dengan kami, ikut membantu komunikasi kami dengan religius leader di Papua dan Papua Barat. Kami bersyukur para pendeta dari Jayapura, dari Manokwari, dan Sorong berkenan silaturrahim, tukar pikiran dan hadir di sini,” katanya.

 

Mantan Menteri Sosial ini juga menyampaikan kepada para pendeta, bahwa dirinya telah menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak Papua. Dan pertemuan ini, menurutnya, menjadi bagian penting dalam sebuah sambung rasa untuk membangun kesepahaman bersama. 

 

Bahkan tidak sekedar membangun kesepahaman, tapi juga untuk membangun rasa saling percaya dan saling menghormati. 

 

“Kita bisa membangun mutual respect jika sudah ada mutual understanding dan mutual trust. Satu dengan yang lain memahami, saling percaya dan saling menghormati,” tutur gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

 

 

Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja se-Kota Jayapura Pendeta Dr. Yan Piet Wambrauw, MTh mengatakan, pihaknya beserta rombongan datang mewakili Persekutuan Gereja Papua dan Papua Barat untuk mengunjungi anak-anak Papua dan Papua Barat di Jatim.

 

“Kita sudah tahu apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, sangat disayangkan itu terjadi. Dan karena anak-anak kami datang ke sini untuk studi, maka kami berharap anak-anak bisa kuliah lagi. Mereka kembali menuntut ilmu.  Dengan harapan suatu saat mereka akan kembali ke Papua maupun Papua Barat bisa membangun bersama dengan masyarakat,” jelasnya.

 

"Kami sangat berharap dan percaya pasti urusan itu akan selesai dengan baik. Tidak ada pihak manapun yang dirugikan,” tambahnya.

 

Pihaknya juga berharap pula agar Kota Surabaya bisa menjadi sebuah model untuk menyelesaikan masalah khususnya yang berhubungan dengan mahasiswa. Selain itu, kepada pemerintah setempat dalam hal ini, Gubernur Jatim Khofifah diharapkan bisa menjadi orang tua terdekat bagi warga ataupun mahasiswa Papua yang tinggal di Jatim.

 

Dalam pertemuan tersebut Gubernur Khofifah Indar Parawansa menerima Noken dari sejumlah Pendeta Papua tersebut. Noken adalah tas asli Papua yang terbuat dari serat kulit kayu yang biasa digunakan oleh mama-mama di Papua untuk membawa hasil panen sayur atau buah. Di tanah Papua Noken bukan hanya sekedar tas namun juga simbol kehidupan yang baik, perdamaian dan kesuburan bagi masyarakat Papua. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive