• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Dengan teknologi PGT-A peluang keberhasilan program bayi tabung lebih besar

September 1, 2019

 

Sby, MercuryFM - Hadirnya In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung telah diterima sebagai salah satu teknologi reproduksi kehamilan berbantu yang dapat menjanjikan kemungkinan kehamilan terbaik. Walaupun demikian, hingga saat ini keberhasilan program IVF berada pada tingkat yang relatif belum optimal. 

 

Dimana program bayi tabung saat ini sudah semakin canggih. Kini ada teknologi baru bernama PGT-A yang bisa menyeleksi embrio yang bagus dengan jumlah kromosom yang diperlukan sebelum ditanam dalam rahim.

 

Teknologi Pre Implantation Genetic Testing for Aneuploidy itu diperkenalkan Morula IVF Surabaya,  di Surabaya National Hospital,  Minggu (1/9).

 

Salah satu dokter di Morula In Vitro Fertilization (IVF) Surabaya, dr. Amang Surya, SpOG mengatakan teknologi ini sudah banyak dikembangkan di beberapa negara di dunia.

 

Di Indonesia baru pertama kali memperkenalkan ini karena semakin banyaknya orang Indonesia yang melakukan tes ini di luar negeri.

 

“Daripada di luar negeri, lebih baik di sini. Biayanya akan jauh lebih murah,” ujar dr Amang.

 

 

PGT-A ini merupakan tindakan pemeriksaan kromosom pada embrio dengan teknologi Next Generation Sequencing (NGS) yang dilakukan sebelum transfer embrio atau penanaman kembali embrio ke dalam rahim.

 

Ini  terbukti memberikan dampak positif bagi kesuksesan program IVF atau bayi tabung.

 

Tes ini dilakukan agar bisa menghasilkan bayi yang berkualitas. Walau tidak 100 persen menjamin kualitas embrio, namun tim dokter di Morula IVF memastikan akurasi bisa mencapai 95 persen.

 

Namun, ditegaskan dr Amang, memang untuk menghasilkan bayi yang berkualitas juga ditentukan oleh proses kehamilan selama sembilan bulan.

 

Di sinilah peran si ibu agar terus menjadi kualitas janin yang ada di rahimnya setelah dilakukan penanaman embrio.

 

“Kalau selama hamil tidak dijaga juga belum tentu menghasilkan bayi berkualitas. Tapi setidaknya, dari awal embrio itu sudah berkualitas tinggal menjaganya supaya bisa terus berkualitas. Karena 60 persen tumbuh kembang janin itu ditentukan dari saat dalam kandungan,” jelas dr Amang.

 

Salah satu dari tim dokter Morula IVF lainnya, yakni dr. Benedictus Arifin, SpOG (K) FICS menegaskan teknologi PGT-A ini sebenarnya untuk membantu program pemerintah mencetak generasi masa depan yang sehat dan cerdas.

 

Generasi sehat dan cerdas itu tidak lahir secara instan, melainkan harus dibentuk ketika masih dalam kandungan. “Kita mencoba memilih yang terbaik dari embrio yang ada dari pasangan suami istri yang sah,” tandas dr  Benedictus.

 

Karenanya, diakui dr Benedictus, pihaknya  tidak bisa menentukan nantinya embrio itu ketika lahir bisa memiliki keahlian apa. Atau tidak bisa menentukan bayi itu kelak akan memiliki kondisi fisik seperti apa.

 

“Karena semua tergantung dari induknya, dalam hal ini ayah dan ibunya. Kalau di luar negeri bisa, karena beli sperma dilegalkan. Sehingga kalau ingin punya anak seperti apa bisa diwujudkan. Tapi di sini, semua masih terbentuk aturan, dan kami sendiri masih meminta bukti surat nikah untuk melakukan proses bayi tabung,” tutur dr Benedictus.

 

Tidak hanya itu, untuk menentukan jenis kelamin pun, tim dokter tidak bisa melakukannya. Karena aturan di Indonesia, dokter tidak boleh menuruti kemauan orang tua untuk memilihkan jenis kelamin.

 

“Kita hanya mencari yang terbaik dari embrio itu. Kalau yang terbaik, jenis kelamin tertentu ya harus diterima. Tidak boleh memilih,” tukasnya.

 

Dan ditegaskan dr Benedictus, pasien meminta bayi kembarpun, tim dokter kini sudah tidak memperbolehkan. Alasannya, karena kehamilan kembar juga mengandung banyak risiko bagi pasien.

 

“Yang pasti tim dokter akan berusaha menanamkan embrio tunggal di rahim pasien. Bukan double atau triple. Satu embrio yang ditanam itu kemungkinan besar juga bisa membelah. Kalau membelah bisa mengalami kehamilan double. Tapi bukan karena kami yang menanamkan embrio double,” ungkap dr Benedictus.

 

Langkah itu yang saati ini coba dilakukan tim dokter pada pasien. Edukasi terus dilakukan agar tidak meminta bayi kembar saat mengikuti program bayi tabung.

 

“Kalau di Australia memang dibiayai pemerintah untuk program bayi tabung sehingga satu janin tidak masalah. Tapi kalau di Indonesia,karena pasien membayar sendiri, maka mintanya ada bonus, beli satu dapat dua,” tandas dr Benedictus.(Dani)

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive