• White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group

Gubernur ajak FKUB Jatim kikis intoleransi di anak muda dengan cara melenial

September 7, 2019

Sby, MercuryFM - Intoleransi di Jatim harus dikikis habis. Kehidupan yang harmonis antar Umat beragama, harus terus dijaga di Jatim untuk bisa menjadi benteng untuk mengikis intoleransi.

 

Apalagi dari data survey PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, angka intoleransi beragama di Indonesia, khususnya generasi Z (yang lahir pada tahun 1995-2010) masih cukup tinggi  Yakni, untuk mahasiswa mencapai  23,3%, sementara pelajar SMA mencapai 23,4%

.

Dengan kondisi semacam itu serta untuk mengeliminir intoleransi di Jatim, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parwansa mengajak seluruh pihak, termasuk Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jatim untuk terus membangun suasana saling menghormati, saling menghargai dan saling memahami ( mutual understanding).

 

"Jika tokoh agama baik  intern maupun antar umat beragama sering berdialog dan  bersilaturrahim, maka kesepahaman lebih mudah diwujudkan, akhirnya terbangun saling percaya ( mutual trust) dan saling  menghormati (mutual respect)," ujar Gubernur setelah melakukan pertemuan dengan pengurus FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) Jatim di gedung Grahadi, Sabtu (07/09/19).

 

Kata Khofifah, suasana harmonis atar umat beragama bisa  terbangun antara lain  melalui intensitas dialog secara terus menerus.  Dialog hendaknya dapat di tradisikan  sejak mereka masih remaja yang dalam time line generasi termasuk  generasi Z

.

“Ini menjadi perhatian kita, disharmoni biasanya muncul akibat kurang dialog dan kurang saling mengenal, akhirnya eksklusif. Dalam sebuah negara yang penuh kebhinekaan seperti Indonesia, maka harmoni akan terwujud jika kita berhasil mewujudkan pola hubungan yang inklusif, baik intern maupun antar umat beragama khususnya di Jawa Timur. Mari kita jaga suasana  kemitraan yang harmonis (harmonious partnership) intern dan antar umat beragama di Jatim dengan melibatkan secara aktif  seluruh elemen strategis , khususnya peran religious leader, seperti FKUB” jelas Khofifah.

 

Mantan Menteri Sosial ini mengatakan pada posisi yang dapat menimbulkan kerentanan sosial, posisi FKUB sebagai representasi religious leader sangat dibutuhkan, khususnya sebagai perekat keberagaman yang tumbuh di tengah- tengan dinamika sosial politik keamanan  yang berkembang.

 

Untuk membangun harmonious  partnership di era sekarang, imbuh Khofifah, tentu tidak bisa hanya dengan mengandalkan cara-cara lama, tatap muka saja,  seperti ceramah atau khotbah. Untuk itu pihaknya mengajak FKUB untuk melakukannya dengan cara ala milenial, format meme, karikatur dan narasi yang sesuai dengan nalar dan psikologis serta style milenial.

 

“Seperti dengan meme, karikatur, dan lain-lain. Sebab, tidak semua anak-anak muda sabar mendengar nasehat, khutbah atau ceramah,” pungkasnya. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive