Gubernur ajak FKUB Jatim kikis intoleransi di anak muda dengan cara melenial


Sby, MercuryFM - Intoleransi di Jatim harus dikikis habis. Kehidupan yang harmonis antar Umat beragama, harus terus dijaga di Jatim untuk bisa menjadi benteng untuk mengikis intoleransi.

Apalagi dari data survey PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, angka intoleransi beragama di Indonesia, khususnya generasi Z (yang lahir pada tahun 1995-2010) masih cukup tinggi Yakni, untuk mahasiswa mencapai 23,3%, sementara pelajar SMA mencapai 23,4%

.

Dengan kondisi semacam itu serta untuk mengeliminir intoleransi di Jatim, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parwansa mengajak seluruh pihak, termasuk Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jatim untuk terus membangun suasana saling menghormati, saling menghargai dan saling memahami ( mutual understanding).

"Jika tokoh agama baik intern maupun antar umat beragama sering berdialog dan bersilaturrahim, maka kesepahaman lebih mudah diwujudkan, akhirnya terbangun saling percaya ( mutual trust) dan saling menghormati (mutual respect)," ujar Gubernur setelah melakukan pertemuan dengan pengurus FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) Jatim di gedung Grahadi, Sabtu (07/09/19).

Kata Khofifah, suasana harmonis atar umat beragama bisa terbangun antara lain melalui intensitas dialog secara terus menerus. Dialog hendaknya dapat di tradisikan sejak mereka masih remaja yang dalam time line generasi termasuk generasi Z

.

“Ini menjadi perhatian kita, disharmoni biasanya muncul akibat kurang dialog dan kurang saling mengenal, akhirnya eksklusif. Dalam sebuah negara yang penuh kebhinekaan seperti Indonesia, maka harmoni akan terwujud jika kita berhasil mewujudkan pola hubungan yang inklusif, baik intern maupun antar umat beragama khususnya di Jawa Timur. Mari kita jaga suasana kemitraan yang harmonis (harmonious partnership) intern dan antar umat beragama di Jatim dengan melibatkan secara aktif seluruh elemen strategis , khususnya peran religious leader, seperti FKUB” jelas Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini mengatakan pada posisi yang dapat menimbulkan kerentanan sosial, posisi FKUB sebagai representasi religious leader sangat dibutuhkan, khususnya sebagai perekat keberagaman yang tumbuh di tengah- tengan dinamika sosial politik keamanan yang berkembang.

Untuk membangun harmonious partnership di era sekarang, imbuh Khofifah, tentu tidak bisa hanya dengan mengandalkan cara-cara lama, tatap muka saja, seperti ceramah atau khotbah. Untuk itu pihaknya mengajak FKUB untuk melakukannya dengan cara ala milenial, format meme, karikatur dan narasi yang sesuai dengan nalar dan psikologis serta style milenial.

“Seperti dengan meme, karikatur, dan lain-lain. Sebab, tidak semua anak-anak muda sabar mendengar nasehat, khutbah atau ceramah,” pungkasnya. (ari)


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
No tags yet.
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Twitter Icon

© 2016 by Mercury Media Group