Dinas Kesehatan diminta lakukan pemetaan penyebaran tenaga dokter di Jatim

September 23, 2019

 

Sby,MercuryFM - Pemerintah Provinsi Jatim diminta untuk segera melakukan pemetaan jumlah dokter di Jatim. Mengingat penyebaran dan jumlah tenaga dokter di Jatim alami kekurangan tenaga dokter sampai saat ini.

 

Anggota DPRD Jatim Agung Mulyono berharap agar Dinkes Jawa Timur segera memetakan kekurangan tenaga dokter secara detail. Pasalnya, dengan memiliki data secara rinci, maka kekurangan tenaga dokter itu itu bisa diatasi secara bertahap.

 

"Dinkes harus mendata, termasuk kekurangan diseluruh kabupaten. Apakah termasuk kota Surabaya. Peta itu harus jelas, mana yang kekurangannya banyak. Buat aja cluster, kemudian cari solusi," katanya, Senin (23/09/19)

 

Kata mantan ketua Komisi E DPRD Jatim ini, Dinkes harus melakukan komunikasi dan sosialisasi ke seluruh Perguruan Tinggi di Jatim terkait tenaga dokter. Ia meyakini seluruh Perguruan Tinggi ingin agar lulusannya segera bekerja.

 

“Padahal kita ketahui saat ini banyak perguruan tinggi yang membuka fakultas kedokteran. Sedangkan tenaga dokter dianggap kurang, ini jelas kontradiktif,” ujarnya.

 

Dikatakan Agung, fenomena kekurangan tenaga dokter itu sebenarnya bukan masalah baru. Sejak lama, distribusi tenaga kesehatan di Jatim memang tidak merata.

 

"Isu itu sebenarnya sudah lama, tapi sejak dulu orang-orang lulusan dokter PTT yang mau masuk Jawa juga kesulitan. Harus mulai dari luar Jawa dulu. Kan harus dipetakan rasio kekurangannya nanti berapa. Penyebarannya seberapa," pungkasnya.

 

Kekurangan tenaga dokter untuk Jatim memang diakui dinas Kesehatan Prooinsi Jatim. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Kohar Hari Santoso mengatakan, jika dibandingkan jumlah dokter dengan masyarakat, rasionya 1 banding 5900. Dengan rasio itu, satu dokter di Jatim harus melayani 5900 orang.

 

"Padahal idealnya 1 banding 3000, satu dokter melayani 3000 orang,” ujar Kohar saat dikonfirmasi, Minggu (22/09/19).

 

Dari data yang ada kata Kohar, untuk Surabaya yang padat penduduknya tidak ada masalah karena jumlahnya terpenuhi. Ironisnya lagi, Madura yang memprihatinkan karena rasio 1:10.000, yakni satu dokter melayani 10.000 pasien.

 

“Ini bisa dibilang karena kurang meratanya distribusi dokter. Karena  sebagian besar buka praktek di perkotaan. Akibatnya di pedesaan rasio jumlah dokter yang ada tidak seimbang dengan jumlah penduduk,” katanya.

 

Untuk dokter spesialis yang ada di rumah sakit daerah,  standarnya sudah terpenuhi. Begitu juga persebaran dokter spesialis sudah tercukupi.

 

“Kalau mencari dokter spesialis jantung di ujung Madura ya tidak ada. Makanya kami melakukan review kelas rumah sakit beberapa waktu lalu. Jadi rumah sakit tipe C, dokter spesialis untuk penyakit dasar itu sudah ada,” terangnya. (ari)

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Anugerah Ariyadi De Facto Jabat Waketum Komisi B

January 16, 2018

1/1
Please reload

Recent Posts
Please reload

Archive